PB Jakarta : Wabah virus corona (Covid-19) telah menyebar ke lebih dari 160 negara di dunia, termasuk Indonesia.

Berdasarkan data pemerintah yang diinformasikan Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan, data yang dihimpun pada 20 Mei 2020 pukul 12.00 WIB, terjadi penambahan 693 pasien positif, hingga total kasus positif menjadi 19.189 orang,  kasus sembuh menjadi 4.575 orang. pasien meninggal dunia  totalnya menjadi 1.242 orang.

Meningkatnya kasus Covid 19 tersebut membuat pemerintah untuk melaksanakan himbauan Social Distancing dan self-isolation demi mengurangi penyebaran virus tersebut.

Namun, hal ini berdampak pada lesunya beberapa sektor bisnis khususnya bisnis yang mengharuskan adanya interaksi langsung antarmanusia seperti ritel, pariwisata, pameran, dll. karena mereka kehilangan pengunjung dan pembeli.

Meski demikian, tidak semua sektor bisnis mengalami masalah yang sama. Misalnya bisnis seperti jasa antar barang dan makanan mengalami peningkatan yang signifikan karena semakin banyak orang yang menerapkan gerakan #dirumahsaja.

Permasalahan sektor Industeri yang diakibatkan Pandemi bagi pelaku ekonomi kreatif (ekraf) khususnya yang terkait dengan industeri musik tanah air menjadi pembahasan yang sangat menarik bagi Himpunan Pengusaha dan Wiraswasta Indonesia (HIPWI) KB FKPPI ke empat.

Melalui Web Seminar (Webinar), HIPWI KB FKPPI menggelar diskusi berjudul   “Wabah Corona :  Katalis Menuju Era Baru”, Selasa (19/5). IBincang online tersebut membahas dunia industri Permusikan yang tentu saja sangat merasakan dampak dari pendemi covid-19 dengan tidak mengadakan pertunjukkan karena PSBB serta hal lain terkait pandemi.

Selaku pembicara dalam diskusi ini  : Candra Darusman seorang seniman dan sekaligus Ketua Umum Federasi Serikat Musisi Indonesia  ( FESMI ), dipandu oleh Toro Sudarmadi  selaku Ketua Umum HIPWI  KBFKPPI dan dimoderatori oleh Aminullah selaku Wakil Sekjen KB FKPPI serta menghadirkan Mahavira  Wisnu Wardhana selaku pemantik Acara.

Acara dihadiri oleh para narasumber yaitu Ferdiansah dari DPR RI komisi X yang juga merupakan kader FKPPI ,  beberapa musis diantaranya : Gilang Ramadhan, Tetty Kadi Penyanyi senior dan kader FKPPI Jabar, Wakil Walikota Bandung Bung Yana Mulyana, musisi muda Indra Sinaga serta, pengurus KB FKPPI dan unsur pendukungnya.

Industri Musik Indonesia Tumpuan Ekonomi Kreatif Indonesia

Ekonomi Kreatif (Ekraf) salah satu sektor yang diharapkan mampu menjadi kekuatan baru ekonomi nasional di masa mendatang.

Salah satu aspek penting dalam pengembangan ekonomi kreatif adalah ketersediaan data dan informasi statistik yang menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan serta keputusan, baik bagi pemerintah maupun pelaku Ekonomi Kreatif. Namun pendataan masih sangat lemah bahkan data terakhir yang dimiliki Ekraf adalah data tahun 2016.

Berdasarkan rujukan data tersebut industri permusikan memiliki potensi nomer dua dari subsistem yang sedang berkembang dengan pesat yaitu sebesar 7,27 %.

Ferdiansah menyoroti masalah perlu adanya reformulasi industri permusikan tanah air dan sektor pariwisata  Industri permusikan Indonesia  dibawah naungan HAKI sampai saat inibelum membahas sampai pada pengelolaannya, sehingga masalah Hak cipta dan Royalti belum dapat sepenuhnya dinikmati oleh para pemusik Indonesia.

Ferdiansah dalam hal ini mengharaokan agar Hipwi FKPPI dapat menjadi jembatan untuk membantu membahas bersama-sama sehingga hal-hal yang harusnya menjadi hak para pemusik dapat dinikmati sebagimana seharusnya.

Hal senada disampaikan pula oleh Mahvira Wisnu Wardhana yang akrab dipanggil bung Inu yang merupakan putra Tetty Kadi, menurutnya pada situasi pandemiK covid-19 ini ada dua trend yang berbeda, disatu sisi terjadi penurunan khususnya dalam pertunjukkan musik pagelaran namun di sisi lain tumbuh dengan pesat bahkan mencapai 40 persen dalam  media teknologi. Hal ini dapat terlihat dengan jelas dengan adanya peningkatan yang sangat siflgnifikan terhadap percepatan tranformasi teknologi pada industri musik. Teknologi digital tersebut yang tadinya hanya diminati olah generasi muda usia 16-30 tahun, saat ini merambah pada mereka yang berusia 30-45 tahun.

Teknologi digital seperti Youtube, IG , Facebook Live , Tik tok , telah merubah wajah industri permusikan.

Kebutuhan mendengarkan  musik di rumah, munculnya artis atau penyanyi independen, proses yang tidak terlalu sulit , hemat budget, cepat terkenal asalkan mampu membawa sesuatu yang baru dan menarik yang mampu diakomodir oleh teknologi digital tersebut, semakin mempercepat transformasi industri musik ditanahair.

Musisi Senior Chandra Darusman, berpandapat bahwa pelaku pelaku industri permusikan harus mampu hidjrah menghadapi situasi saat ini, seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW yaitu berhidjrah dari Mekah ke Madinah.

Chandra mengatakan bahwa tidak ada yang dapat menggantikan pagelaran music secara live , karena adanya suasana, kehadiran suasana dalam satu event.

Namun ia juga menyampaikan 3 hal untuk dapat diterima dengan baik dalam menggelar konser dengan ‘wajah baru’,  yaitu :

1. Menerima terjadinya  perubahan dari phisik ke digital melalui platform yang tersedia, ini merupakan gerakan perubahan migrasi. Meskipun masih ada kendala ketidak siapan insfrastruktur khususnya pada industri musik.

2. Merespon terjadinya  percepatan perubahan dalam penggunaan  produk –produk import, yang ditengarai mulai kembali menggunakan produk lokal , di sini dituntut kemampuan melakukan inovasi –inovasi.

3. Menyadari telah terjadi perubahan perilaku yang sebelumnya individual, menjadi hidup bergotong Royong atau dalam Bahasa lainnnya berkolaborasi.

Ada perkembangan yang kurang menguntungkan sebenarnya dalam industri permusikan yaitu over supply, sehingga terjadi persaingan yang sangat luar biasa , disisi lain adanya samudera internet yang kita tidak mampu mengukurnya. Untuk dapat kembali survival harus kembali kepada culture atau budaya bangsa sendiri untuk bersama sama.

Perlu Perhatian Pemerintah Pusat dan Daerah Terhadap Musisi

Gilang Ramadhan yang juga hadir dalam bincang online menyampaikan bahwa situasi saat ini tidak mudah buat mereka karena ada gap terhadap perkembangan teknologi, sementara musik-musik tradisional memiliki nilai yang sangat tinggi , apalagi jika mereka melakukan kegiatan di luar negeri, yang menjadi persoalan adalah masalah HAKI dan Royalti, semestinya pemerintah pusat maupun daerah memiliki perhatian yang terhadap masalah tersebut.

Wakil Walikota Bandung sekaligus Ketua PD X Jawa Barat, yang akrab dipanggil Kang Yana, menyambut positif pernyataan Gilang dan menyampaikan bahwa menurutnya pemerintah daerah dapat melakukan sosialisasi kepada para pemusik tradisional bahwa ada hak mereka di sana berupa Haki dan Royalti.

Menutup diskusi Ketua Umum Toro Sudarmadi menyampaikan bahwa HIPWI yang tersebar di seluruh Indonesia pada 33 propinsi memiliki peluang yang sangat baik dalam menggairahkan industri permusikan Indonesia melalui percepatan teknologi.  Lembaga Manajeman Kolektif seperti dituturkan bung Chandra akan dapat membantu permasalahan para musisi dari permasalahan Haki dan Royalti . untuk dapat terus eksis harus mampu melakukan kreativitas dan inovasi sehingga produk yang ditampilkan adalah sesuatu yang benar benar berbeda unik dan menarik termasuk cara membungkus produknya.

 

Di sampaikan oleh.Herawati – Poltak

 

loading...