PB Brebes ; Salah satu pimpinan pondok pesantren (ponpes) Salafiyah Sofwaniyah di Brebes, Jawa Tengah dan sekaligus Wakil Sekretaris Komisi Hukum MUI Pusat, Hamam Asy’ari, meminta pemerintah membuat kebijakan pelaksanaan new normal di lingkup pesantren dengan baik dan ketat. Pasalnya, Pesantren Salaf mempunyai tradisi yang sangat khas dalam belajar ilmu kitab kuning.

“Para santri selalu berada di ponpes dan belajar dengan metode sorogan (menyodorkan) dan bandongan serta menghafal berbagai nadzom nahwu-shorof. Hal ini dilakukan dengan cara sering bertatap muka secara khusus dengan kiainya,” ujar Hamam, melalui pesan tertulisnya, Rabu (3/6/2020)

Dia menambahkan, kami menghimbau kepada pemerintah dengan melakukan kebijakan khusus yang diterapkan di pesantren salaf dalam situasi Covid 19 ini agar pesantren bisa terjaga dengan baik dan terhindar dari wabah Covid 19. “Terkait hal tesebut, kami memberikan solusi, pertama kebijakan pemerintah yang konkret dan serius dalam menjaga pesantren dari resiko penyebaran virus COVID-19,” kata dia.

Hamam melanjutkan, yang kedua adanya dukungan fasilitas kesehatan untuk pemenuhan pelaksanaan protokol kesehatan, seperti rapid test, hand sanitizer, akses pengobatan dan tenaga ahli kesehatan. “Ketiga, dukungan sarana dan fasilitas pendidikan yg sangat memadai dan biaya pendidikan (Syahriyah/SPP dan Kitab) bagi santri yang terdampak secara ekonomi,” jelas Hamam.

Selanjutnya dia melanjutkan, yang keempat, pemerintah juga diharapkan memperhatikan nasib para asatidz, assatidzah dalam hal ekonomi dalam situasi Covid 19 ini. Kami meminta pemerintah dapat melibatkan kalangan pesantren, terutama dalam menentukan kebijakan.

“Kami juga mengimbau agar setiap keputusan yang diambil terkait dengan nasib pesantren harus melibatkan kalangan pesantren. Tentunya Kami juga berdoa semoga Covid 19 ini segera berlalu dan kita semuanya diharapkan selalu jaga kesehatan diri dengan baik, dan selalu mematuhi peraturan pemerintah,” tandas Hamam. ((HFZ/TS)

loading...