PB Banyuasin – Senja hampir rebah ketika riak ombak semakin kerap menampar tiang-tiang kayu rumah panggung di sepanjang perairan muara.

Beberapa menit sekali, speedboat berkecepatan sedang lalu lalang dari hulu dan hilir, berlomba dengan kapal motor penarik tongkang bermuatan pulp.

“Mereka mengangkut pulp untuk bahan baku kertas dari kawasan pabrik kertas Baung Palembang ke kapal yang sedang lego jangkar di laut lepas,” terang Kopral Kepala Kusmadi, anggota Pos TNI AL Muara Sugihan, Desa Muara Sugihan, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyu Asin, Minggu (15/06/2020).

Bersama tiga personel lainnya di bawah komando Komandan Pos Peltu Kanero, Kusmadi bergantian piket menjaga keamanan wilayah perairan tersebut. Keberadaan mereka didukung aparat pemerintah desa dan masyarakat setempat. Apalagi mereka selalu berbaur dengan warga, terutama jika warga tertimpa musibah.

Tidak hanya menyeberangkan jenazah warga yang meninggal untuk dimakamkan di seberang sungai, tapi mereka juga ikut menggali liang lahat.

“Pengabdian itu penting, tapi harus juga sejalan dengan bakti kemanusiaan kita kepada sesama,” ujar Kusmadi.

Senada dengan Kusmadi, Jalalu (61), tokoh masyarakat Desa Muara Sugihan mengapresiasi kebersamaan anggota TNI AL dan aparat lainnya dengan masyarakat.

Selain bercerita singkat tentang harmonisasi di antara mereka, Jalalu mengulas kehidupan masyarakat Muara Sugihan yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan.

“Selain melaut, warga juga budidaya sarang walet, lebih dari 100 bangunan rumah walet yang dibangun di sini,” ungkap Jalalu.

Memang, selain rumah panggung penduduk juga terdapat bangunan rumah walet, dengan sebuah pondok kecil di atasnya. Rumah-rumah walet ini umumnya berdinding papan maupun asbes dan memiliki ventilasi udara sebagai media masuk-keluarnya burung walet.

Banyaknya warga membangun rumah walet, menurut Jalalu, karena harga jual sarang walet cukup menggiurkan. Untuk sarang walet yang baru dipanen saja bisa dijual Rp 10 juta hingga 12 juta perkilogram. Bahkan harga bisa mencapai Rp 25 juta untuk sarang yang sudah dibersihkan. Para pembeli bahkan bersaing harga untuk mendapatkan sarang walet yang bersih dan berkualitas bagus. Tak heran jika warga dari luar ikut menaruh minat untuk membangun rumah walet di sana.

Berada di desa ini seperti menikmati perkampungan nelayan umumnya.
Lazimnya keberadaan dermaga-dermaga papan untuk berlabuh perahu nelayan, sekaligus sebagai jembatan menuju rumah-rumah panggung milik warga.

Jalan papan dengan tiang cor beton semacam gang dibangun untuk memudahkan aktivitas warga. Meski hanya bisa dilalui sepeda dan pejalan kaki, tapi media ini menjadi vital bagi warga desa. Kegiatan apapun melalui jalan ini.

Menurut mantan Humas sebuah perusahaan plasma ini, ada yang menarik dari kisah kehidupan keseharian nelayan. Ia bahkan menganalogikan bahwa nelayan adalah orang kaya yang selalu makan dengan lauk ikan segar setiap harinya. Namun kondisi tersebut berbanding terbalik dengan perekonomiannya yang cenderung kurang beruntung.

“Istilahnya, kalau dayung kering maka periuknya juga ikut kering,” ujarnya menggambarkan kondisi ekonomi para nelayan.

Ia mengaku prihatin. Padahal dulu nelayan setempat memiliki koperasi untuk memperbaiki taraf hidup. Sayangnya wadah tersebut seperti mati suri, hingga kini.

Jalalu berharap pemerintah daerah bersedia membantu nelayan melalui berbagai program bantuan. Apalagi di tengah masih merebaknya virus Corona seraya membiasakan masyarakat beraktivitas dalam tatanan kehidupan baru (new normal).

Semburat jingga mulai turun saat deru mesin perahu motor yang melintas perairan Muara Sugihan mengusik para penghuni gedung-gedung papan beratap asbes. Suara cicitnya menghias suasana perkampungan. Yah, perkampungan nelayan yang tenang dengan nyanyian ribuan burung walet. (Ismai)

loading...