PB JAKARTA – Dipanggilnya Wakil Walikota Solo Ahmad Purnomo saya nilai tak pantas dilakukan oleh seorang kepala negara.
Ini pelanggaran etika politik. Menurut saya Istana bukan tempat memanggil lawan politik anaknya Gibran.
Serahkan saja ke timses Gibran, kenapa Jokowi yang harus turun tangan.
Dalam sejarah presiden baru kali ini istana dilakukan seperti ini.
Gedung ini sakral, kecuali urusan negara tidak masalah.
Saya tak paham apakah Jokowi mengerti posisi istana itu apa fungsinya, apa yang perlu urus disana.
Kalau Soeharto lalu ada kediamannya Cendana jika urusan pribadi.
Seyogianya tim ahlinya atau di KSP memberikan pemahaman terkait fungsi istana.
Jangan-jangan istana dijadikan tempat pemenangan lagi!
Menurut saya bisa saja Purnomo dipanggil tapi pertemuannya jangan di istana tapi di rumah Jokowi di Solo atau di luar istana.
Dari satu sisi kembali politik dinasti bangkit lagi. Padahal dalam pidato lalu Megawati sempat menyindir politik dinasti. Saya sarankan agar Pak Jokowi lebih ke tupoksinya sebagai kepala negara.
Ini merupakan kebangkitan besar politik dinasti di Indonesia. Sebetulnya tak perlu Jokowi getol mendukung Gibran.
Bukan sibuk ngurusin Gibran. Nanti stigma negatif dari publik akan muncul terhadapnya.
Sama saja era Soeharto, saya pikir Jokowi akan memutus rantai politik dinasti. Sebetulnya saya nilai Gibran passion-nya lebih ke arah bisnis.
Perlu membedakan urusan keluarga, pribadi, politik dan negara. Istana itu tempat urusan negara.

Oleh : Jerry Massie (Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies)
loading...