PB Lumajang – Musim kemarau yang berkepanjangan terjadi pada tahun ini, mengakibatkan sejumlah kebakaran di wilayah Kabupaten Lumajang.

Selain kebakaran hutan, Hendro Wahyono, petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, mengakui masih bisa melakukan pencarian penyebabnya, namun khusus untuk kebakaran hutan pihak BPBD mengaku kesulitan.

Kebakaran hutan yang juga sering terjadi di Gunung Lemongan, beberapa hutan milik perhutani, di pendakian Gunung Semeru yang masuk kawasan TNBTS dan lainnya, Beberapa bulan terakhir ini, kata Hendro, hampir sering terjadi kebakaran. Biasanya tidak diketahui apa penyebab terjadinya kebakaran, terutama jika yang terbakar itu kawasan hutan.

“Kebakaran hutan yang terjadi di Gunung Semeru (3.676 mdpl) mulai mendekati permukiman warga di Kecamatan Pronojiwo Kabupaten Lumajang. Jarak lokasi kebakaran hutan Semeru dengan permukiman warga di Dusun Rowobaung Desa Pronojiwo, Kecamatan Pronojiwo hanya sekitar 1 kilometer,” jelas Kepala BPBD Ribowo, Selasa (27/10).

Didampingi oleh SKPD terkait dan Muspika Pronojiwo serta Tim Reaksi Cepat (TRC) Penanggulangan Bencana, Bupati Lumajang, Drs. As’at M. Ag meninjau lokasi serta turut serta dalam memadamkan api kebakaran hutan yang ada di Dusun Rowobaung Desa Pronojiwo Kecamatan Pronojiwo.

Menurut Ribowo, Bupati As’at meminta kepada masyarakat untuk tetap siaga dan tenang dengan kondisi sekarang ini, serta membuat posko pemantauan titik api untuk memberikan informasi dengan cepat kepada satgas BPBD dan PBK setempat.

” Bupati meminta kepada masyarakat untuk tidak khawatir atau cemas, namun tetap siaga dengan situasi kondisi ini,” ujarnya. selain itu Ribowo mengingatkan ancaman hewan buas juga harus diperhatikan, dikarenakan habitatnya terganggu

Ribowo mengatakan saat ini petugas gabungan sudah melakukan upaya penyekatan parit di lokasi kebakaran hutan yang ditumbuhi pinus dan ilalang, agar titik api tidak semakin merembet ke permukiman warga di Kecamatan Pronojiwo.

“Sejauh ini permukiman penduduk di Kecamatan Pronojiwo aman dari titik api karena sudah dilakukan penyekatan parit, namun petugas akan terus memantaunya. Pemadaman kebakaran di hutan sebelah timur Gunung Semeru dilakukan para relawan menggunakan alat seadanya,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa banyak kendala yang dihadapi tim gabungan dalam memadamkan kebakaran hutan di lereng Gunung Semeru yakni medan yang sulit, angin yang cukup kencang, dan sepanjang jalur pendakian Semeru yang terbakar tidak ada mata air.

“Upaya pemadaman kebakaran di gunung tertinggi di Pulau Jawa ini melibatkan sejumlah pihak yang dikomando oleh pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sebagai pengelola kawasan, kemudian BPBD, TNI, Polri, masyarakat peduli api, dan sukarelawan, serta pecinta alam,” paparnya.

Kebakaran di lereng gunung yang memiliki ketinggian 3.676 mdpl terjadi sejak Selasa (20/10) hingga Selasa (27/10) belum berhasil dipadamkan karena kondisi medan yang sulit, angin kencang, dan banyak tanaman kering yang mudah terbakar.

(tik / hms)

loading...