PB, JAKARTA – Menolak pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di Indonesia, puluhan mahasiswa melakukan aksi demontsrasi di depan Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakpus, Selasa (15/12).

Pemberlakuan MEA di sepuluh Negara di Asia Tenggara akan menjadi kenyataan pada tahun 2016 yang tinggal beberapa hari lagi.

Indonesia termasuk negara yang akan memasuki babak baru dalam tatanan kehidupan antar bangsa menjadi satu entitas regional.

Mahasiswa menilai pemberlakuan MEA di Indonesia bersama dengan sembilan negara Asia Tenggara lainnya merupakan  hal yang dipaksakan, lantaran menurut mahasiswa, permasalahan yang akan muncul dikemudian hari adalah kesiapan yang sesungguhnya dari segenap rakyat di kawasan Asean.

“Banyak pihak meyakini bahwa masih banyak warga Asean yang tidak paham mengenai apa esensi dari MEA ini”, teriak  seorang orator.

Masih menurut mahasiswa, implikasi dari pemberlakuan MEA adalah produk barang atau jasa yang diproduksi dimana pun di seluruh wilayah Asean boleh dialirkan atau dipasarkan ke seluruh wilayah anggota Perserikatan Bangsa Bangsa di Asia Tenggara tanpa bea masuk seperti yang ada selama ini.

Donny, Korlap Aksi mencontohkan, Durian petruk dari jepara di peroleh di Hanoi,Vietnam dengan harga relatif sama dengan di Yangoon, Myanmar karena variabel pembedanya hanyalah ongkos angkut, sebaliknya lanjut Donny, ponsel buatan Vietnam nantinya akan mudah dan murah diperoleh di Jayapura, Papua, ataupun di Davao, Filipina.

Selain itu mahasiswa mengkhawatirkan permasalahan ego kebangsaan seperti yang terjadi selama ini, seperti negara Malaysia yang merasa diri sudah lebih maju dan banyak mempekerjakan WNI sebagai pekerja rendahan di negeri itu, akan timbul sikap congkak mereka.

Terkait hal tersebut. Puluhan mahasiswa yang mencoret tubuh mereka bertuliskan “TOLAK MEA” meminta pemerintah (Jokowi) membatalkan kesepakatan Pasar Bebas MEA yang disinyalir menyeret Indonesia kedalam jurang liberalisasi dan kapitalisasi ekonomi.

(Beb)

loading...