PB, Cianjur – Masyarakat pelanggaran Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mukti Kabupaten Cianjur mengeluhkan tarif air berlangganan bulanan yang melonjak naik secara drastis.

Kenaikan tagihan tarif bulanan itu dikatakan terjadi secara tiba-tiba. Sementara, pelanggan pun mengaku tidak pernah mendapatkan pemberitahuan lebih dahulu tentang rencana kenaikan tarif air tersebut.

Seperti yang diungkapkan Aziz (45), salah seorang warga yang berdomisili di Jalan Pangeran Hidayatullah, Kecamatan Cianjur, yang mengeluhkan kenaikan tiba-tiba tarif tersebut.

Ia mengaku, ia hanya tinggal berdua saja dengan istrinya. Setiap bulan, rata-rata ia menggunakan lebih kurang 5 kubik dan membayar sebesar Rp38 ribu saja per bulannya.

Namun, memasuki bulan Desember ini, tagihan airnya melonjak drasris tiga kali lipat menjadi Rp110.000.

“Tagihannya naiknya tiba-tiba saja. Kalau memang naik yang setidaknya diberitahu dulu dan ada penjelasannya kenaikannya itu untuk apa dan kenapa. Aneh, naiknya tiba-tiba sudah tiga kali lipat,” sesal dia.

Senda, Uat Suhendro (45) warga Desa Bojong, Kecamatan Karangtengah menuturkan, kenaikan tagihan tarif air yang diterimanya kini sudah mencapai angka Rp220 ribu per bulan.

Padahal, pada dua bulan terakhir, tagihannya hanya Rp100 ribu untuk pemakaian air 10 meter kubik.

“Tidak ada pemberitahuan, tiba-tiba saja naik. Saya kan kaget. Jadinya saya bertanya-tanya kenapa tarifnya naik, padahal pemakaian tidak lebih dari biasanya,” ujar dia.

Hal lebih ironis dialami Cucu (54), salah satu warga Bojong, Desa Sukataris, Karangtengah. Pasalnya, di rumahnya, air PDAM lebih sering mampet alias tidak keluar.

Tapi, setiap bulan, ia mengaku tetap diwajibkan membayar tagihannya.

“Saya malah sering numpang mandi si rumah saudara. Malah, kadang untuk cuci piring saja air tidak ada,” ungkap dia.

Kendati demikian, Cucu bukan tinggal diam. Ia mengaku sudah sangat sering melaporkan mampetnya air PDAM di kawasan ia tinggal itu. Tapi, jawaban petugas PDAM selalu tidak memuaskan dengan alasan yang selalu berganti-ganti.

“Sudah bosan buat laporan nulis ini itu sampai datang ke kantornya. Hasilnya tetap sejak pasang pertama sampai sekarang lebih banyak mampetnya. Sekarang tarif naik lagi mendadak. Kualitas memble kok naikin tarif. Koreksi internal dulu saja lah,” geram dia.

Terpisah, Nusi Yuniar Rachman, Kasubag Rekening dan Tunggakan PDAM Tirta Mukti menampik bahwa pihaknya tidak mensosialisasikan kenaikan tarif baru air berlangganan. Justru, pihaknya sudah melakukan sosialisasi dengan menggandeng pihak ketiga.

“Dulu tim konsultan yang datang langsung ke rumah-rumah. Mereka memeriksa 6 aspek, seperti luas bangunan, luas tanah, KWH listrik dan penghasilan pemilik rumah serta lebar jalan dan kondisi bangunan,” ujar Nusi di ruang kerjanya.

Nusi menjelaskan, kenaikan sebenarnya dipengaruhi oleh reklasifikasi, yakni klasifikasi R1 (rumah tanga I), R2 dan R3. Klasifikasi pertama adalah untuk masyarakat kurang mampu dengan penghasilan dibawah Rp1 juta per bulan. Beban bulanan sendiri ada pada kisaran Rp35.500.

R2 adalah klasifikasi masyarakat menengah dengan beban air per bulan mencapai Rp40.500 dan R3 dengan beban air bulanan hingga Rp42.500.

Menurut Nusi, kenaikan tarif juga dipengaruhi oleh sistem pemeriksaan bulanan yang menggunakan android. Dalam sistem ini, setiap pemeriksa memotret meteran air dan barcode yang terpasang di rumah warga dan dengan segera mengirimkannya ke pengelola data.

“Dulu masih manual, petugas mungkin memeriksa dengan menyamaratakan saja. Alhasil, tarifnya tidak terlalu besar. Begitu kami menggunakan sistem android, data yang masuk ya apa adanya. Tidak bisa dikira-kira, sehingga wajar jika ada perubahan dari harga sebelumnya,” kata dia.

(RH)

loading...