PB, Purworejo – Prada Tito Dwi Murtianto (24) Anggota TNI Bataliyon Infantri 412 Raider Purworejo meninggal misterius usai melaksanakan protap dari Danbarak di barak Bataliyon setempat Rabu (16/12).

Prada Tito meninggal di Rumah Sakit Panti Waluyo setelah upaya medis di rumah sakit tersebut tidak membuahkan hasil.

Keterangan yang berhasil dihimpun di lapangan, meninggalnya Prada Tito Dwi Murtianto NRP 31130322580491 jabatan Tabakpan 2/Pok Pan 2/Ru 1/ Ton III Ki A Yonif 412/R/6/2 Kostrad, bermula pada pukul 13.00 WIB sewaktu Tito melaksanakan protap dari Danbarak lari siang selama 10 kali putaran di depan barak (lebih kurang 100 meter).

Sekitar pukul 13.15 WIB lari siang itu selesai dan Tito memutuskan beristirahat di barak.

Pada pukul 14.00 WIB Danbarak melakukan pengecekan untuk melaksanakan makan siang.

Namun karena pada waktu itu Tito terlihat sedang tidur mendengkur yang bersangkutan tidak dibangunkan.

Pukul 14.45 WIB Danbarak kembali melakukan pengecekan dan ternyata Tito masih tidur mendengkur.

Karena curiga Danbarak kemudian mencoba membangunkan Tito dengan cara menggoyangkan tubuhnya tapi tidak ada reaksi.

Danbarak kemudian menghubungi Pratu Fajar Ariyanto, petugas piket kesehatan.

Sekitar pukul 15.00 WIB petugas piket kesehatan datang dan langsung memeriksa kondisi Tito.

Karena dari analisa piket kesehatan dengkuran Tito tidak lazim, kemudian yang bersangkutan di larikan ke RS Panti Waluyo Purworejo.

Pukul 15.30 WIB Tito tiba di RS Panti Waluyo dan langsung masuk IGD kemudian ditangani oleh dokter dan tim medis.

Saat itu kondsi Tito sudah koma. Sekitar pukul 16.00 WIB Tito dimasukan ke ruang ICU dan pada pukul 17.45 WIB dokter yang menangani menyatakan Tito sudah meninggal dunia.

Dokter RS Panti Waluyo dr Erni Yulianti menerangkan, Prada Tito Dwi Murtianto tiba di rumah sakit sekitar pukul 16.00 WIB dengan diantar oleh Pratu Fajar Ariyanto anggota Yonif 412/Kostrad.

Saat itu kondisi Tito sudah tidak sadarkan diri, nafas sudah mengorok dan pada punggung terdapat luka memar membiru.

Sementara itu, Sugito, salah kerabat Tito mengatakan, dari hasil pemeriksan dokter memang ada luka memar membiru pada punggung Tito.

Namun demikian pihak keluarga belum tahu apakah itu bekas penganiayaan atau tidak.

Karena itu pihak keluarga telah menyerahkan proses penanganan kasus kematian Tito kepada TNI.

“Keluarga hanya bisa berharap agar kematian Tito diusut tuntas dan ditangani sesuai hukum yang berlaku jika benar luka itu akibat penganiayaan,” kata Sugito di sela-sela pemulangan jenazah Tito dari RS Panti Waluyo menuju Baturetno, Banguntapan, Bantul Rabu (16/12) sekitar pukul 24.00 WIB.

Rencananya jenazah Tito akan dibawa pihak keluarga ke RS di Yogyakarta untuk dilakukan visum guna mengetahui penyebab kematian Tito.

(WARDOYO)

 

loading...