PB, Cianjur – Aksi ratusan warga, simpatisan, pendukung dan relawan pasangan calon nomor urut tiga, Suranto-Aldwin Rahadian (Oki) tidak berhasil menembus barikade kepolisian di Villa Green Hill, massa selanjutnya meninggalakn lokasi.

Bukannya membubarkan diri, massa malah bertambah banyak hingga mencapai ribuan dan langsung menuju Kantor Pemkab Cianjur di Jalan Siti Jaenab, Cianjur.

Melihat kedatang ribuan warga yang tiba-tiba, Satpol PP kemudian langsung menutup pintu gerbang dan menguncinya.

Namun, ribuan warga yang sudah tidak terbendung lagi, berhasil membongkar kunci gerbang dan merangsek masuk ke halaman pemkab dengan pengawalan dari Polres Cianjur.

Usai menggelar orasi beberapa saat, suasana tegang dan memanas kembali terjadi ketika ribuan warga itu membakar sejumlah ban bekas tepat di depan tiang bendera yang berada di depan Pendopo Pemkab Cianjur.

Tak pelak, kericuhan pun sempat terjadi antara ribuan warga dan aparat kepolisian yang berjaga di lokasi. Namun, hal itu bisa diredam baik oleh warga dan Kapolres yang ikut terjun langsung ke lokasi.

Selanjutnya, ratusan diantara warga tersebut, tepat di halaman pendopo Pemkab Cianjur, menggelar shalat ashar bersama-sama tanpa menggunakam alas apapun.

Setelah itu, dengan dipimpin seorang ulama, mereka pun memanjatkan doa agar Cianjur dibebaskan dari cengkraman kedzaliman dan kobobrokan.

Selain itu, dalam doa tersebut, juga dimintakan agar pemimpin Cianjur ke depan bukanlah dari dinasti yang sudah sangat bobrok dan dzalim.

Di antara warga yang shalat tersebut, tidak sedikit yang menitikkan air mata dan menangis.

Tak pelak, suasana yang tadinya memanas pun menjadi hening berseling haru tangis dan sedu.

Koordinator lapangan, Iwan One menyebut, bupati turut bertanggungjawab atas segala kecurangan dan pelanggaran dalam pilkada kali ini.

Pasalnya, selain melakukan intimidasi kepada aparatur sipil negara (ASN) juga menggunakan dan memanfaatkan anggaran serta kegiatan pemkab untuk kemenangan anaknya.

“Ada buktinya dan itu sangat kuat, Bupati sudah melakukan segala cara untuk memenangkan anaknya dan mempertahankan dinasti yang korup dan bobrok,” kata dia.

Iwan mengaku, tuntutan pihaknya adalah penghentian pleno KPU sampai pelanggaran dan kecurangan pilkada ditindaklanjuti paslon nomor dua sekaligus anak bupati, Irvan-Herman, ditindaklanjuti oleh panwas.

“Kami akan terus melakukan aksi serupa dan akan lebih besar lagi karena memang ini semua adalah warga Cianjur. Kami di sini tidak dibayar, tapi karena rakyat Cianjur menginginkan perubahan,” tegas dia.

“Kami akan bertahan untuk tanah kelahiran kami agar tidak jatuh ke tangan dinasti. Rakyat Cianjur tidak akan mundur,” tegas dia lagi.

Diberitakan, sejumlah ASN, PPS dan PPK serta seorang anggota dewan dari PKB ditangkap polisi karena terlibat politik uang dan tidak netral dalam pilkada.

Bahkan, ada juga video bupati yang memerintahkan Ketua RT/RW di Cianjur selatan untuk memenangkan anaknya melalui kegiatan Pemkab. Saat ini, berbagai kasus pelanggaran tersebut masih tidak jelas kelanjutannya di tangan Panwaslu Kabupaten Cianjur.

(RH).

loading...