PB, JAKARTA- Pedagang  Parcel  Cikini Jakarta Pusat yang menjadi ikon pasar Parcel di Ibukota, yang berjualan memanfaatkan momen hari raya, sejak beberapa hari ini mengalami kebanjiran pesanan (order). Rata- rata pesanan parcel di perayaan Natal tahun ini sudah mulai dibuat oleh puluhan pengrajin parcel Cikini 14 hari sebelum hari H, atau dua minggu sebelum hari Natal tiba.

Salah seorang pengrajin parcel menuturkan,  biasanya kios parcelnya yang berada tepat didekat stasiun Cikini mulai kebanjiran order dua sampai beberapa hari jelang Natal tiba. Rata- rata pemesan memilih paket parcel jenis makanan,  hiasan susunan piring- gelas atau satu set cangkir.

” Kebanyakan pada mesen kaya hiasan makanan, yang pesen parcel isi cangkir juga banyak, ” kata Iwan pengrajin parcel di Cikini, Jakpus, Rabu (23/12)

Untuk harga, beberapa pengrajin mengaku harga jual parcel tergantung dari jenis barang yang disajikan, untuk jenis parcel berisi makanan, harga akan lebih murah dibandingkan dengan hiasan piring gelas atau sejenisnya

” Harga kalau hiasan makanan ada yang Rp 400 ribu, kalo hiasan piring ada yang Rp 700 ribuan, harga pemesanan parcel juga bisa nego,” ujar  seorang pengrajin parcel.

Untuk tingkat kesulitan pembuatan paketan parcel tergantung dari tinggi rendahnya susunan parcel tersebut, biasanya kalau paketan parcel yang ukuran jumbo akan lebih sulit proses pembuatannya dibanding ukuran sedang ataupun kecil.

“Yang agak susah, kalau susun parcel yang isinya piring atau cangkir, kalau rata- rata itu kita butuh waktu 2- 3jam, tergantung kesulitan aja, kan harus teliti bikinnya, ” jelas Iwan.

Di kios parcel Cikini yang memang sudah terkenal sejak lama oleh warga jabodetabek,  kini terdapat puluhan pengrajin parcel musiman, mereka akan tampak ramai menjelang hari raya besar keagamaan, semisal hari raya Natal ataupun  Lebaran, bagi mereka tidak ada persaingan dalam mendapatkan pelanggan. Kalau masalah rejeki itu tergantung yang Maha Kuasa.IMG_20151218_161951-1IMG_20151218_161933

Beberapa waktu lalu para pengrajin tersebut berjualan tepat dibawah stasiun Cikini belasan hingga puluhan tahun lamanya, namun mereka terkena penertiban oleh  PT. KAI, akibatnya kini mereka membangun kios- kios semi permanen di seputaran kawasan stasiun yang tak jauh dari Taman Ismail Marzuki (TIM) ini. Para pengrajin parcel ini berharap usaha yang mereka geluti tersebut bisa tetap berjalan demi kelanjutan hidup bagi keluarga mereka.(Beby)

loading...