PB, Cianjur-Keracunan massal yang mengakibatkan total 69 warga Kampung Cimaja, Desa Cibeureum, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin (28) kemarin diduga bukan berasal dari makanan yang dibagikan. Keracunan itu diduga disebabkan dari kemasan makanan styrofoam yang mengandung bahan berhaya.

Setidaknya, hal itu tergambar dari tidak semuanya warga yang mengkonsumsi nasi kotak itu turut menjadi korban keracunan massal. Nasi yang dibagikan itu sendiri mengandung bahan polystyerene.

Berdasarkan penuturan Muhammad Anwar Maulana (30), warga yang turut memasak makanan kotak yang dibagikan seusai acara peringatan Maulid Nabi Muhammad itu di Masjid Al Mu’min itu.

Menurutnya, dia merasa aneh karena dirinya tidak ikut keracunan. Padahal, ia sempat mencicipi dan merasakan masakan tersebut.

“Kalau memang dari makanannya, harusnya saya juga keracunan. Soalnya saya ikut mencoba dan mencicipi masakan itu,” kata dia ditemui di kediamannya, Selasa (29/12) petang.

Anwar menambahkan, dalam kegiatan rutin tahunan di kampungnya itu, ada 200 kotak nasi yang dibagikan. Adapun menu masakannya yakni nasi, mi goreng dan ayam goreng.

Makanan itu bukan memesan dari katering atau rumah makan, melainkan dimasak sendiri oleh warga dan karang taruna. Tata cara pemasakannya pun tidak ada yang berbeda atau salah.

“Semuanya biasa karena dimasak bersama warga disini. Bumbunya juga buat sendiri dan tidak beli bumbu jadi,” jelas dia.

Anwar menjelaskan, memasak mulai dilakukan sekitar pukul 10 hingga 3 sore setelah belanja semua bahan-bahannya di Pasar Cipanas. Malah, ketika makanan sudah selesai dimasak, tidak langsung dimasukkan ke dalam styrofoam.

“Nunggu sekitar satu jam dulu sampai dingin baru dimasukkan styrofoam. Tidak langsung saat masakan panas,” beber dia lagi.

Anwar mengaku sempat mencicipi beberapa kali makanan tersebut sebelum dikemas dalam kotak, namun dia tidak merasakan. Sedangkan istri dan anaknya yang merasakan mual, pusing dan muntah-muntah.

“Istri, anak dan ipar saya yang keracunan mual-mual, tapi saya tidak. Padahal sama-sama makan. Baru setelah itu saya tahu ada banyak warga yang juga keracunan,” ungkap dia.

Sementara, warga lainnya, Titin (52), mengaku hanya mengkonsumsi ayam goreng dalam nasi yang dikemas itu dan tidak merasakan apapun. Namun cucunya mengeluhkan sakit kepala, mual dan muntah-muntah seusai mengkonsumsi makanan itu. Diduga keracunan dari mi yang terkontaminasi dari zat berbahaya yang terkandung dalam kemasan nasi.

“Kejadiannya pas satu jam setelah makan. Saya tidak kena karena cuma makan ayam saja, tapi cucu saya yang kena. Langsung diantar ke rumah sakit,” kata dia.

Terpisah, Kepala Bidang Pelayanan Medis RSUD Cianjur, Cecep Juhana, menduga ada kemungkinan keracunan massal diakibatkan kemasan makanan. Karena, meski mengkonsumsi makanan yang sama namun reaksinya berbeda. Hanya saja untuk memastikan hal tersebut, perlu dikaji lebih lanjut.

“Ini harus diteliti lebih dulu apakah berhubungan dengan wadah makanannya, makanan atau bahan laimnya. Kemungkinannya banyak, apakah dari komposisi makanan, penyajiannya atau kemasan yang digunakan. Implikasinya bisa berupa keracunan,” kata dia.

Dari sisi kesehatan, Cecep mengakui, styrofoam memang sangat tidak disarankan untuk kemasan makanan. Pasalnya, styrofoam terbuat dari DSC_0610-01butiran-butrian styrene yang diproses dengan menggunakan benzana, yakni zat yang bisa menimbulkan banyak penyakit. Zat ini bisa menimbulkan masalah pada kelenjar tyroid, menganggu sistem syaraf sehingga menyebabkan kelelahan sampai mempercepat detak jantung.

Sementara itu, Cecep mengatakan seluruh pasien keracunan massal telah diperbolehkan pulang. Setelah dipantau selama enam jam sejak masuk ke instalasi gawat darurat, kondisi seluruh korban itu membaik. Menurut Cecep, mereka menderita keracunan ringan yang hanya menganggu saluran pencernaan.

“Seluruhnya sudah direkomendasikan dirawat di rumah. Seluruhnya menunjukkan perbaikan. Kalau keracunan berat sudah menyerang saluran darah yang mengakibatkan kejang dan mejalar kemana-mana,” jelas dia.

Sementara itu, pihak kepolisian masih menunggu hasil laboratorium Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat berkenaan hasil sampel makanan yang telah dikirimkan sebelumnya.(RH)

loading...