IMG_20160113_120810PB, JAKARTA – Ratusan massa yang tergabung dalam Paguyuban Muslim Sunda (PMS) menolak kehadiran Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi untuk menjadi pembicara di Talkshow Inspiring Leader ' Membangun Indonesia Melalui Kabupaten yang digelar di Universitas Indonesia Depok, Jawa Barat.

Dalam aksinya massa PMS  membentangkan spanduk berukuran jumbo bertuliskan Kemusyrikan Bukan Adat Sunda. Awalnya pemasangan sempat mendapat penolakan dari petugas keamanan kampus. Namun setelah bernegosiasi, spanduk berukuran 5 x 0,5 meter tersebut bisa terpasang.

Habib Idrus Alhabsy mengatakan, pihaknya menolak Dedy Mulyadi di UI karena Dedy merupakan biang kemusyrikan di wilayah Jawa Barat. Apalagi Dedi sempat mensejajarkan eksistensi kitab suci Al Quran dengan alat musik suling saat menggelar pengajian Bale Paseban di Pendopo Purwakarta, 7 Agustus 2008 lalu.

Kita menolak Dedi, karena pernah juga dihadang saat akan menggelar pengajian di Purwakarta, ujar Habib Idrus Alhabsy.

Yang membuat miris, sambung Habib Idrus Alhabsy yang menolak kehadirannya adalah anak-anak remaja dan preman mabuk. Sehingga PMS yang pernah menjadi korban di Purwakarta harus menolak kehadiran Dedi di UI. Karena PMS pernah merasakan bagaimana susahnya berdakwa di Purwakarta.

Harusnya panitia kalau mememanggil narasumber yang tidak membuat keresahan. Kan masih banyak narasumber selain Dedi yang berprestasi. Kalau Dedi tetap berbicara, kami akan kerahkan massa yang lebih banyak lagi, tegas Habib Idrus Alhabsy yang didampingi Ustad Agus Rahmat, dan Habib Idrus Algadri.

Selain Dedi Mulyadi, acara yang digelar di Auditorium Pusat Studi Jepang, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia (UI) juga menghadirkan narasumber lainnya yakni Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng), Hamdi Muluk (Sosiologi Politik UI) dan Syamsudin Haris (Pengamat LIPI).

Akibat penolakan Dedi Mulyadi ini membuat sejumlah anggota polisi dari Polres Depok bersiaga. Selain itu kendaraan barakuda dan water cannon juga disiagakan di kawasan dekat pintu masuk UI. (Beb)

loading...