IMG_20160109_165813.
PB Sultra, Proyek Jembatan Titian di Desa Tapi-Tapi Kecamatan Marobo Kabupaten Muna diduga Mark Up dan tidak sesuai bestek. Kepada pembawaberita.com Sabtu (09/01), Lukman MD  salah seorang anggota BPD Desa Tapi-Tapi  proyek ini aggarannya bersumber dari Dana Desa tahun 2015 dengan  biaya sebesar ± Rp 304 juta.  Keterangan lain yang diamini oleh beberapa tokoh masyarakat Tapi-Tapi lainnya disebutkan bahwa dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek ini Kepala Desa Tapi-Tapi tidak pernah melibatkan komponen masyarakat Desa Tapi-Tapi lainnya. “Dia kerjakan sendiri semuanya” ujarnya.

Ditambahkannya proyek jembatan yang berkonstruksi kayu tersebut tidak sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB). Menurutnya banyak terjadi perbedaan bahan material di dalam RAB dan yang diadakan.  Misalnya saja kata dia,  di dalam RAB untuk tiang pancang jembatan mestinya menggunakan balok kayu ukuran 15/15 cm, namun yang ada adalah tiang pancang kayu bundar yang berdiameter kurang dari 15 cm.

Akibatnya biaya pengadaan balok tiang pancang berpotensi dikorupsi sebanyak ± Rp 38 juta. “Kalau dengan anggaran seperti ini, saya bisa kerjakan jembatan titian sepanjang ± 250 meter dengan kualitas yang lebih baik. Kalau hanya 180 meter seperti ini, uang 200 juta tidak habis” tegasnya. Senada dengan itu, Dida yang juga merupakan anggota BPD menyampaikan kekesalannya karena Samsul, Sang Kepala Desa tidak pernah mau melakukan rapat koordinasi dengan pihaknya terkait pengelolaan dana desa itu. “Semuanya dia kerjakan sendiri” ujarnya.

Hasil penelusuran Media ini didapatkan beberapa item pengadaan material bahan jembatan di dalam RAB dan yang diadakan. Didalam RAB, tiang yang semestinya ukuran 15/15 cm, namun yang ada tiang bundar. Begitu pula balok gelagar yang semestinya ukuran 8/15 namun yang ada 4/12 ataupun kayu papan untuk lantai jembatan yang mestinya papan kelas I ukuran 3/25 namun yang ada adalah 2/20. Yang lebih aneh lagi papan untuk lantai pada jembatan titian ini menggunakan kayu bakau yang mestinya dilindungi.

Sementara itu Samsul Kepala Desa Tapi-Tapi saat dikonfirmasi oleh media ini (09/01) di kediamannya mengatakan bahan yang ada didalam RAB susah untuk diadakan karena tidak tersedia di pasaran. “Kayu balok ukuran 15/15 tidak ada dijual pak” ujarnya. Kepada pembawaberita.com dirinya bahkan mengakui jika yang membuat RAB,  gambar adalah menggunakan jasa Konsultan, namun ironisnya nama dan alamat konsultan yang dimaksud tidak diketahuinya secara jelas. “Saya tidak tau namanya” ujar Samsul.

Ditempat terpisah Kepala BPMD Kabupaten Muna La Palaka, SE, M.Si. Saat ditemui pembawaberita.com di ruang kerjanya Kamis (14/01)  mengatakan pihaknya akan segera menyurati kepala desa yang bersangkutan untuk dimintai klarifikasinya. “Bila perlu akan kami turunkan tim, baik itu dari inspektorat maupun dari BPKP” ujarnya.  (Enel)

loading...