PB Jember, Rendahnya tingkat kesadaran berlalu lintas yang baik masyarakat Indonesia khususnya Jmber memang terbukti. Seperti contoh sejumlah pengendara sepeda motor di pintu perlintasan Kereta Api Baratan Kabupaten Jember, Jumat (22/1) pagi tadi, yang menerobos palang pintu tanpa rasa takut resiko tertabrak kereta api yang akan lewat.<br>

Aksi nekat terobos palang pintu yang dilakukan oleh beberapa pengendara motor, aturan yang terpampang di pagar pintu seakan hanya hiasan yang tidak berfungsi dan warga tidak merasa takut sedikitpun. Walaupun berusaha dihalau oleh petugas palang pintu. Namun, para pengendara tetab berusaha menerobosnya.<br>

“Kami sudah berusaha melakukan penghalauan mas agar pengendara tidak menerobos palang pintu, ini kan bahaya, apalagi jarak dari kereta melintas hanya sekitar satu meter dari kereta melintas, kalau ada apa-apa nanti kita disalahkan,” kata salah satu petugas palang pintu yang tidak mau disebutkan namanya.<br>

Dirinya menambahkan kalau pelanggaran tersebut kerapkali terjadi bahkan sering beradu mulut dengan petugas penjaga palang pintu yang bertugas. <br

Sementara itu, menurut Krisbiatoro Manager Humas PT KAI Daop 9 Jember saat dikonfirmasi terkait masalah ini menegaskan, jika pelanggaran tersebut sudah datur dalam Undang-Undang dan itu ada bentuk konsekwensi apabila melakukan pelanggaran.<br>

“Permasalah pelanggaran menerobos perlintasan kereta sudah terang benderang diatur dalam UU Nomor 22 tahun 2009 pada pasal 296 tentang lalu lintas dan angkutan jalan. Dimana disebutkan saat pintu sudah mulai ditutup atau suara sirine berbunyi, kendaraan harus berhenti. Jika melanggar sanksinya adalah tiga bulan penjara dan atau denda maksimal sebesar Rp 750 ribu,” ujarnya.<br>

Krisbiantoro juga menambahkan jika aturan tersebut perlu ada penegakan hukum yang tegas dari aparat dan pihak terkait, sehingga ada efek jera bagi para pelaku pelanggaran tersebut. (tiek)

loading...