PB, Jakarta – Keberhasilan pihak Polri dalam mengungkap kasus korupsi penjualan Kondensat SKK Migas kepada PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), patut di acungi jempol.

Sekjen Partai Priboemi, Heikal Safar mengatakan saat ini Polri harus segera menyelesaikan mega kasus ini, ” kerugian negara yang mencapai Rp. 27 Trilyun adalah prestasi para maling uang rakyat yang tidak patut di acungi jempol,” ujarnya.

Bahkan Heikal meminta pihak Polri agar tidak segan-segan menuntaskan dan menyeret para aktor yang menjadikan kasus ini sebagai bagian dari sejarah tubuh Polri, dengan nilai yang sangat fantastis.

Menurut Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Internasional, Yudi Ramdan Budiman, hasil pemeriksaan ini merupakan tindak lanjut atas permintaan Bareskrim Polri melalui Surat tanggal 16 Juni 2015 perihal Perhitungan Kerugian Negara.

Alasan pemeriksaan ini berawal dari penunjukan langsung BP Migas terhadap PT. TPPI pada Oktober 2008 terkait penjualan kondensat untuk kurun waktu 2009-2010.

Sementara, perjanjian kontrak kerja sama kedua lembaga tersebut dilakukan pada Maret 2009.

Penunjukan langsung ini menyalahi peraturan BP Migas Nomor KPTS-20/BP00000/2003-50.

Dalam Hasil Laporan Pemeriksaan (LHP) investigatif Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang diterbitkan 20 januari 2016, menyebutkan, kerugian negara mencapai USD 2,716,856,655,37, atau sekitar Rp. 27 trilyun lebih (dengan kurs USD 1= Rp. 10 ribu)

Penyebabnya meliputi sejumlah penyimpangan dalam proses tender maupun pelaksanaan proyek tersebut.

Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, Yudi menjelaskan, BPK menyimpulkan adanya penyimpangan terhadap peraturan perundangan.

Yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait dalam penunjukan PT. TPPI sebagai penjual kondensat bagian negara dan pelaksanaannya yang mengakibatkan terjadinya kerugian keuangan negara.

“Hasil pemeriksaan tersebut selanjutnya akan dipergunakan oleh Bareskrim Polri dalam menuntaskan kasus tersebut,” papar Yudi, sesaat lalu.

(Jall)

loading...