PB,Kendari – Eksekusi lahan dijalan Khairil Anwar, Kelurahan Mataiwoi Kecamatan Wua wua Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) akhirnya batal dilaksanakan.

Setelah kamis (28/1) pihak penggugat mendapatkan perlawanan keras dari warga setempat yang menempati lahan yang tersebut.

Kuasa Hukum Tergugat, Hasrun mengatakan, inti penolakan pihaknya atas eksekusi lahan seluas satu hektar yang ditempati oleh 10 rumah tersebut karena tidak sesuai.

Gugatan penggugat saat itu dinilai tidak tepat pada pokok kepemilikan.

Hal itu menimbulkan keanehan bagi pihaknya dimana penggugatan itu mestinya tidak ditujukan kepada Muhuni yang hanya berstatus sebagai anak menantu dari pemilik lahan.‬

‪”Semestinya gugatan itu ditujukan kepada pemilik karena pada saat itu ahli waris masih hidup, kaitannya dengan homebase karena gugatan Muhuni berdasarkan hombis bahwa telah diberikan hombis. Sementara hombase itu pada saat itu berdasarkan telegram dari Pangdam ditambah surat permintaan keluarga terkait kejelasan terhadap home base rupanya telah dikembalikan kepada masyarakat sebagai pemilik dan surat itu kami sudah pegang” ujarnya‬

‪Dijelaskannya, Sengketa lahan ini rupanya telah berlangsung selama 19 tahun terakhir.

Berawal dari tanah hak milik mendiang Ismail selaku kuasa pemilik yang telah lama didiami oleh turun temurunnya yang kemudian dilanjutkan oleh mendiang Abdul Halid sejak tahun 1953, melalui surat pengolahan lahan yang dimilikinya sampai dengan dihibahkan kepada Siti Maryam pada tahun 1981.‬

‪”Pada interval waktu sebelum penghibahan hak milik kepada Siti Maryam ada sekelompok tentara yang secara paksa menguasai lokasi tanah tersebut pada tahun 1970, sehingga memaksa keluarga yang mendiami tempat tersebut mencari pelarian demi hidup bercocok tanam. Tetapi pada tahun 1981 melalui radiogram Menhan Pangab yang menginstruksikan kepada seluruh tentara untuk tidak ada penguasaan lahan masyarakat, sehingga pada saat itu juga keluarga pemilik lahan kembali menempati lahan tersebut” terangnya.

(Nomilia)

loading...