PB Jakarta – Bursa Efek Indonesia mengemukakan bahwa peraturan mengenai kemudahan pelaksanaan penawaran umum perdana saham (IPO) bagi perusahaan minyak dan gas belum menjadi prioritas.

“Harga komoditas yang kurang baik membuat perusahaan sektor migas cenderung menahan untuk melakukan ekspansinya. Apalagi perusahaan migas saat ini justru cenderung mengurangi produksi,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat di Jakarta, Selasa.

Pada tahun 2014 lalu, BEI telah mengeluarkan peraturan nomor I-A1 tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan di Bidang Pertambangan Mineral dan Batubara. Dalam aturan itu BEI memberi kemudahan bagi perusahaan mineral dan batu bara untuk IPO meski belum berproduksi.

“Nah rencananya, kemudahan IPO untuk perusahaan migas akan dibuat juga. Belum ada target meski sudah ada rencana,” kata Samsul Hidayat.

Dari pihak perusahaan migas, lanjut dia, sejauh ini juga belum ada yang memberi masukan atau usulan mengenai peraturan tersebut.

Secara umum, ia mengemukakan bahwa peraturan itu nantinya akan memberikan kemudahan bagi perusahaan-perusahan migas walaupun belum melakukan penjualan dan baru menyelesaikan eksploitasi.

“Kalau aturan yang sekarang kan belum memungkinkan untuk IPO. Perusahaan harus sudah memiliki pendapatan,” katanya. (Hefrizal/Iqp)

loading...