1625792_1094551280362_4780045_n
Oleh : Achmad Syahril (Pemerhati Budaya Jakarta, Alumni Arkeologi Universitas Indonesia)

 


PB Jakarta – Mungkin sebagian besar penduduk Jakarta pengguna biskota mengenal terminal Blok M di wilayah Kebayoran Baru. Jika mereka menumpang biskota yang melaju mendekati terminal , akan selalu mendengar teriakan sang kondektur bis, “CSW…CSW!! Ada yang berhenti di CSW?”. Bagi semua penumpang bis dan bahkan penduduk di wilayah Jakarta Selatan akan selalu berpikiran bahwasanya CSW adalah sekadar sebuah perempatan jalan raya besar, salah satu akses menuju terminal.

Perempatan yang menjadi simpul Jalan Kyai Maja, Jalan Trunojoyo, Jalan Sisingamangaraja, serta Jalan Panglima Polim Raya. Di perempatan itu terletak bangunan-bangunan pemerintahan seperti gedung Kejaksaan Republik Indonesia, Sekretariat ASEAN, gedung Perum Percetakan Uang RI, serta lain-lainnya. Hanya itu

CSW Tempo Dulu

CSW Tempo Dulu

Hanya segelintir orang yang mengetahui bahwa CSW merupakan singkatan dari bahasa Belanda yaitu, Centrale Stichting Wederopbouw (Pusat Yayasan Rekonstruksi). Saat itu CSW digunakan untuk penampungan truk-truk, mesin gilas, alat-alat berat, material, batu-batuan, aspal dan tempat tinggal para pekerja bangunan. Lembaga ini didirikan terkait dengan pembangunan kota baru di Kebayoran pada sekitar tahun 1948. Singkatnya, CSW merupakan pusat kegiatan pembangunan kota baru Kebayoran, yang selanjutnya dinamakan Kebayoran Baru. Perkembangan politik pada sekitar tahun 1949 yakni adanya pengakuan kedaulatan dari pemerintah Belanda ke tangan Indonesia, menyebabkan perubahan dalam tubuh lembaga yang mengurus pembangunan kotabaru Kebayoran dari CSW (Centrale Stichting Wederopbouw) ke PCK (Pembangunan Chusus Kebajoran).

Kota Baru Kebayoran

Pembangunan kota baru di wilayah Kebayoran tidak terlepas dari permasalahan kekurangan perumahan yang terjadi di Jakarta. Pertambahan penduduk di kota Jakarta tidak diimbangi dengan sarana perumahan, menyebabkan pemerintah pada saat itu merencanakan pembangunan kota baru di luar pusat kota. Alasan pemilihan pembangunan perumahan secara besar-besaran ini tidak direalisasikan di pusat kota, karena tidak tersedianya kesatuan lahan tanah yang luas.

Pada sekitar tahun 1948 pemerintah kota Jakarta saat itu mensyaratkan bahwa lahan yang akan dibangun perumahan tidak boleh jauh dari kota Jakarta, karena tempat itu pada tahap awal akan dijadikan sebagai tempat para pekerja dari ibukota. Selain itu juga kawasan perumahan tersebut harus merupakan satu kesatuan otonom dengan suasana lingkungan tersendiri lepas dari ibukota, dan mempunyai pemerintahan sendiri yang biasa disebut kota satelit. Setelah melalui persiapan matang barulah pada tanggal 30 Agustus 1948, berdasarkan surat keputusan Letnan Gubernur Jenderal terpilihlah satu tempat atau kawasan bagi pembangunan perumahan secara besar-besaran.

Kawasan yang terpilih merupakan perkampungan penduduk yang banyak terdapat kebun buah-buahan serta lahan persawahan. Posisi kawasan terdapat di selatan-barat daya kota Jakarta, tepatnya di sebelah timur distrik Kebayoran. Di kawasan itu pula terdapat empat daerah pedesaan yakni Grogol Udik, Pelapetogogan, Gandaria Noord dan Senayan. Terpilihnya kawasan di bagian Kebayoran sebagai tempat pembangunan kota baru, maka kota baru ini selanjutnya dinamakan Kotabaru Kebayoran. Dan saat kini terkenal dengan nama Kebayoran Baru. Penamaan “Kotabaru Kebayoran” atau “Kebayoran Baru” dipakai untuk membedakannya dengan wilayah Kebayoran yang lain, yang tidak terkena pembangunan perumahan kotabaru. Wilayah itu terletak di sebelah barat Kotabaru Kebayoran seperti Cipulir, Pondok Pinang, Kebayoran Lama Utara, Kebayoran Lama Selatan, Grogol Utara, Grogol Selatan, atau wilayah yang sekarang dikenal dengan Kebayoran Lama.

loading...