PB, PURWOREJO –  Komplek lokalisasi Gunung Tugel Kutoarjo kini hanya tinggal kenangan. Tempat bisnis esek-esek itu kini sudah rata dengan tanah. Enam bangunan yang biasa digunakan untuk mereguk kenikmatan sesaat itu sudah dirobohkan oleh tim gabungan dari Sat Pol PP, Polres dan Kodim 0708 Purworejo, Rabu (10/2/2016).

40 PSK yang tiap malam siap melayani para hidung belang kini sudah kocar kacir. Sebagian ada yang mengikuti pelatihan ketrampilan di sebuah lembaga yang disediakan pemerintah, sisanya masih bertahan dengan profesinya meski harus ke luar daerah. Kendati ada yang tetap nekad beroperasi di Kutoarjo itupun harus secara sembunyi-sembunyi dengan resiko terjaring razia petugas.

Menurut Kabid Sosial Disnakertransos Purworejo,  Sri Lestariningsih, pihaknya sudah memberi penawaran kepada eks penghuni lokalisasi Gunung Tugel untuk diberi pelatihan ketrampilan gratis di Solo selama satu tahun. Pelatihan ketrampilan disesuaikan dengan minat dan bakat masing-masing. Diantaranya menjahit, bordir dan salon kecantikan. “Setelah selesai mereka akan diberi modal untuk usaha,” kata Sri.

Namun demikian, lanjutnya, tidaklah mudah membina eks PSK. Banyak yang enggan untuk dibina dan mencari nafkah secara normal. Bahkan ada yang sudah ikut pembinaan kabur dan kembali beroperasi ke profesi semula. “Alasanya, mereka tidak percaya hasil usahanya kelak cukup menghidupi keluarga. “Mereka juga beralasan lebih mudah dan cepat cari uang dengan menjajakan diri,” tambahnya.

Keberadaan tempat prostitusi di  Gunung Tugel yang masuk wilayah Dusun Girirejo Timur Kelurahan/Kecamatan Kutoarjo sejak tahun 1970 an. Awalnya lokasinya di sekitar pasar hewan. Seiring perkembangan wilayah tempatnya bergeser di pinggir sungai tak jauh dari Gunung Tugel. Namun lantaran diwilayah itu dibangun perumahan dan disertai penolakan warga, komplek wisata esek-esek itu kemudian pada tahun 1993 berpindah di Gunung Tugel.

Gunung Tugel sendiri merupakan sebuah perbukitan yang dijadikan area pemakaman etnis Tionghoa atau lebih dikenal dengan Bong Cina. Gunung Tugel dibelah oleh jalan beraspal yang menghubungkan Kutoarjo dan daerah sekitarnya. Karenanya tidak mengherankan meski wilayahnya berada di pinggiran namun cukup ramai dilalui kendaraan baik roda dua maupun empat.

Nama Harjo Kubis disebut sebut sebagai orang yang pertamakali membuka bisnis haram itu. Hingga sebelum dihancurkan, dari enam rumah bordil itu salah satu micikarinya atau germo bernama Wiji yang masih trah Harjo Kubis. Bahkan Wiji dianggap orang yang paling berpengaruh setelah era Harjo Kubis
IMG_20160211_154807Lokalisasi Gunung Tugel sebenarnya tidak begitu luas. Meski demikian kendaraan roda empat bisa masuk sampai komplek. Prostitusi di Gunung Tugel juga masuk kategori kelas menengah ke bawah. Tarifnya cukup terjangkau bagi hidung belang yang modalnya pas pasan. Yakni berkisar Rp 50 ribu rupiah. Kalau toh ada yang tarifnya Rp 200 ribuan biasanya PSK pendatang dan dianggap “barang baru”, bagi pria yang suka ” jajan”,ditempat itu. (WARDOYO)

loading...