PB, Dispenarmabar – Sebuah kapal tanker MT Alpha yang sedang berlayar di Perairan Selat Philips bermuatan bahan bakar jenis MFO dirompak sekelompok orang tidak dikenal. Para perompak mendekati kapal dengan menggunakan speed boat kemudian 3 orang berpakaian gelap menggunakan senjata tajam naik ke atas kapal dan salah seorang di antaranya menodongkan pistol kepada perwira jaga dan menyuruhnya untuk menghentikan kapal.

Dalam waktu sekitar 30 menit terdapat 2 kapal tanker yakni MT Bravo dan MT Charli telah menempel di lambung kanan MT Alpha, selanjutnya kawanan perompak memindahkan muatan MT Alpha kepada kedua kapal tanker tersebut. Setelah selesai, kawanan perompak meninggalkan MT Alpha menggunakan speed boat menuju Batam dan membawa 2 buah HP serta uang nakhoda sejumlah 2000 dolar Singapura. Bersamaan dengan itu MT Bravo dan MT Charli yang sudah terisi minyak MFO meninggalkan MT Alpha dan bergerak menuju EOPL.

Kurang lebih satu jam dari aksi perompakan, anak buah kapal MT Alpha berhasil membebaskan diri dan menyalakan distress signal. Selanjutnya Distress signal yang di pancarkan MT Alpha diterima Information Fusion Center (IFC) dan meneruskan berita tersebut kepada Tim Western Fleet Quick Response (WFQR) IV. Menindaklanjuti kejadian tersebut, Gugus Keamanan Laut Koarmabar (Guskamlaarmabar) menggerakan Satuan Tugas (Satgas) Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Operasi Laut Indonesia Singapura yang sedang beroperasi di Selat Phillips menuju posisi distress signal MT Alpha. Kemudian Tim Lantamal IV dan Lanal Batam menggunakan sea rider dan combat boat melaksanakan penyekatan di perairan utara Batam.

KRI Siwar-646 sebagai salah satu unsur Satgas melaksanakan manuver lapangan dan bergerak dengan pengembangan taktis, sehingga berhasil menangkap kawanan perompak yang sedang melaksanakan aksi transfer minyak dari MT Charli ke MT Bravo di Perairan Timur Tanjung Balai Karimun. Sementara itu Tim WFQR IV melaksanakan penyisiran di Perairan Batam sekitar Pulau Kepala Jerih, Kasu, dan Pulau Terung. Tim Intel Lanal Batam memperoleh informasi dari nelayan tentang adanya sebuah boat dengan 6-7 orang melintas Teluk Jodoh menuju Batam. Selanjutnya Tim Intel melakukan penyelidikan di Pantai Stres dan diperoleh keterangan nama dan tempat orang yang biasa menyewakan boat, serta kelompok pelaku perompakan. Selanjutnya setelah dilakukan pendalaman dan teridentifikasi para pelaku perompakan MT Alpha dapat ditangkap.

Demikian salah satu skenario Latihan Pra Tugas (Latpratugas) Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Indonesia Singapura (Indosin) yang digelar Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) di Perairan Selat Singapura dan Selat Philips. Latihan ini bertujuan untuk menyiapkan dan membekali Satgas Operasi Pamtas Wilayah Laut Indonesia-Singapura agar memiliki kemampuan dan keterampilan yang handal secara terintegrasi dalam rangka mencapai kesiagaan operasional guna menunjang pelaksanaan tugas operasi di daerah perbatasan wilayah laut Indonesia-Singapura secara berhasil dan berdaya guna.

Pangarmabar Laksamana Muda TNI A Taufiq R., dalam sambutan pembukaan Latpratugas Pamtas Indosin yang dibacakan Komandan Gugus Keamanan Laut Koarmabar (Danguskamlaarmabar) Laksamana Pertama TNI Muhammad Ali, S.E., M.M., baru-baru ini mengatakan, ditinjau dari segi geografis, kemungkinan timbulnya masalah perbatasan antara Indonesia dengan Singapura akan begitu kompleks, karena jarak antara Pulau Batam dengan Singapura cukup dekat. Indonesia dan Singapura telah memiliki perjanjian garis batas laut wilayah kedua negara di Selat Singapura berdasarkan perjanjian antara RI dan Singapura tentang penetapan garis batas laut wilayah kedua negara di selat singapura pada tanggal 25 mei 1973.

Lebih lanjut Pangarmabar mengatakan, untuk menjaga keamanan perbatasan tersebut, maka Mabes TNI melalui Koarmabar telah menggelar operasi pengamanan perbatasan wilayah laut Indonesia-Singapura selama 240 hari dalam setahun dengan tema ”Koarmabar melaksanakan operasi pengamanan perbatasan wilayah laut Indonesia-Singapura untuk mewujudkan keamanan di wilayah laut Indonesia yang berbatasan dengan wilayah laut Singapura untuk mencegah dan menindak pelaku tindakan ilegal dalam rangka Operasi Militer Selain Perang (OMSP)”.

Latihan Pra Tugas Pamtas Indosin yang dilaksanakan Koarmabar ini diikuti 390 orang peserta dengan melibatkan 4 Kapal Perang Republik Indonesia (KR) berbagai jenis diantraranya 1 KRI jenis Penyapu Ranjau, 2 KRI jenis Kapal Cepat Rudal, 1 KRI jenis Patroli Cepat, Helly BO dan Sea Rider. (Kamal)

loading...