PB-Jakarta : Pemerintah menargetkan penghematan devisa impor bahan bakar minyak jenis solar sebesar Rp27 triliun dari pemakaian biodiesel pada 2016.

Dirjen Energi Baru dan Terbarukan Kementerian ESDM Rida Mulyana usai pelepasan perjalanan kendaraan yang memakai solar dengan campuran nabati 20 persen (B20) oleh Menteri ESDM Sudirman Said di sela ajang Bali Clean Energy Forum (BCEF) 2016, Nusa Dua, Bali, Jumat mengatakan, pihaknya menargetkan campuran nabati (fatty acid methyl ester/FAME) ke dalam solar mencapai 6,48 juta kiloliter atau volume biodieselnya sekitar 32 juta kiloliter.

“Kami optimistis dengan target tersebut, sehingga nilai penghematan impor solarnya mencapai dua miliar dolar AS (Rp27 triliun),” katanya.

Penerapan B20 pada 2016, lanjutnya, juga akan mengurangi emisi karbondioksida setara 9-18 juta ton per tahun.

Rida mengatakan, pada 2015, realisasi penyerapan FAME hanya 905.000 kiloliter dengan nilai penghematan impor solar Rp5,1 triliun.

Dengan demikian, ada kenaikan penghematan devisa impor lebih dari lima kali lipat.

Dikatakan lebih lanjut bahwa realisasi penyerapan FAME pada 2015 itu hanya 53 persen dari target 1,7 juta kiloliter. “Penyebabnya antara lain karena penyerapan baru dimulai Agustus,” katanya.

Pada 2016, tambah Rida, penyerapan FAME akan mulai diterapkan untuk pembangkit listrik.

Sesuai ketentuan, pembangkit listrik dikenakan kewajiban mencampur FAME ke dalam solar sebesar 30 persen pada 2016.

“Target penyerapan FAME ke dalam pembangkit tahun ini masih kecil. Total hanya 500 ribu kiloliter,” katanya.

Sementara, penyerapan FAME yang dicampur solar transportasi bersubsidi pada 2016 ditargetkan tiga juta kiloliter dan solar nonsubsidi juga tiga juta kiloliter. (Rm/Iqp/end/ant)

loading...