PB-Denpasar : Korban pembunuhan, pembantaian yang dilakukan secara terencana yang dilakukan Kelompok Laskar Bali terhadap anggota Baladika masih menyisakan kepedihan yang mendalam terhadap keluarga korban. Dalam peristiwa kerusuhan di Lapas Kerobokan yang meninggal dunia di RS. Sanglah, korban pembunuhan pertama bernama I Wayan Permana Yasa alias Doglet yang mengalami luka tusukan. warga Desa Darmasaba Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung, Korban pembunuhan kedua bernama I Putu Sumariana alias Robot terbunuh dengan luka tusuk pada perut kanan berasal dari Ubung Kaja.

DSC_4306Apapun alasannya peristiwa pembunuhan di negara Indonesia ini adalah suatu hal yang tdak bisa ditolerir dan diampuni baik itu unsur pribadi maupun kelompok, Pelaku pembunuhan haruslah diberi hukuman sesuai dengan Undang-undang yang berlaku di negara ini. Sebagai negara hukum tidak ada satu warga negarapun yang kebal hukum, pejabat pemerintah maupun rakyat biasa tidaklah bisa lari dari jerat hukum sesuai dengan perundan-undangan yang berlaku dan sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya.

DSC_4216Memang ada kecenderungan saat ini hukum di Indonesia untuk kelompok tertentu tumpul adanya, sehingga muncul ungkapan “Hukum Runcing Kebawah, dan Tumpul Keatas”, suatu sindiran halus untuk institusi terkait dalam jajaran penegak hukum, banyaknya kasus-kasus yang salah menjadi benar, yang benar menjadi salah karena kuat dan lemahnya kemampuan financial untuk melemahkan putusan peng-adilan atau adanya status pelanggar hukum, hukuman pengadilan menjadi ringan atau malah bebas dari jeratan hukum.

1Penyerangan sekelompok organisasi masyarakat atau ormas sehingga terjadi keributan mencekam masih membekas di antara korban luka yang selamat, bahkan mereka kini trauma pasca kejadian berdarah, dan berharap semua pelaku dihukum seberat-beratnya. Adalah Ferdian, seorang korban selamat saat peristiwa berdarah 17 Desember 2015, di Denpasar, Selasa, mengakui dirinya diserang oleh segerombolan ormas dengan samurai dan sempat berusaha lari sampai kawasan Puri Mas. Namun mereka dikeroyok ditendang dan kepalanya dipukul dengan kayu dan besi, sehingga luka di kepala dan mengalami luka tebas di tangan. “Saya tidak tahu diserang tiba-tiba. Banyak yang pada lari sembunyi karena memakai baju hitam ormas tiba-tiba dikeroyok usai pulang menengok teman di Lapas Kerobokan. Sekarang saya trauma akibat musibah ini. Saya harap pelaku bisa ditangkap semua dan dihukum seberat-beratnya,” katanya.

Korban Selamat

Begitu juga saksi korban yang diserang sekelompok ormas yang selamat lainnya bernama Dewa Kadek menjelaskan bahwa saat kejadian di Jalan Teuku Umar dirinya baru saja usai datang dari menenggok teman di LP Kerobokan dan pulangnya melewati Jalan Teuku Umar bertemu gerombolan ormas sekitar lima mobil dan beberapa ormas memakai sepeda motor. “Mereka langsung menabrak saya dan karena saya direbut tiga orang tangan saya luka karena menangkis pedang samurai. Untung saya ketemu gang dan bisa lari meskipun sempat dikejar sampai 20 meter akhirnya bisa lolos dari kejaran oknum ormas tersebut. Kita tidak bisa melawan jika diserang mendadak,” kata Kadek menuturkan. “Kita hanya memakai baju ormas dan tidak membawa senjata apapun. Mereka turun dari mobil dan menyerbu. Saat itu ada yang tewas dua orang dan luka-luka sekitar tujuh orang,” ujarnya.

Sementara itu, paman korban yang tewas dibantai sekelompok orang (ormas) yakni Putu Sumariana alias Robot, I Made Suwenta didampingi kakak sepupu korban Nyoman Yudiarta mengaku saat itu perasaannya sangat terkejut karena beritanya sangat mendadak. Kini, pihak keluarga mengharapkan pelaku dihukum seberat-beratnya, sebab korban laki-laki yang merupakan satu-satunya tanpa punya orang tua yang menghidupi kedua adiknya. “Katanya sore itu ada titipan tahanan di LP, saat itu Robot disuruh menjemput ke depan pada saat itu malah diserang secara membabi buta,” kata Yudiarta. Begitu juga mengakuan I Made Landra selaku paman korban tewas, yaitu Made Mertayasa alias Donal (28) mewakili keluarga menuntut agar para pelaku dihukum seberat-beratnya dan bila perlu dihukum mati karena menghilangkan nyawa orang lain. “Apalagi anak satu-satunya, Sampai ayahnya mau bakar rumahnya. Mau dikasi siapa rumahnya sekarang dan mereka menangis terus. Saya hanya bisa berdoa agar Robot bisa mendapat tempat yang layak. Saya kasian menantu saya, belum punya anak sudah ditinggal baru setengah tahun menikah. Uang bisa dicari tapi anak tidak bisa dicari,” ujarnya dengan berlinang airmata. Kesedihan yang sama juga dirasakan istri korban bernama Made Widia Astuti. Ia kini hanya berharap agar semua pelaku pembunuhan saat penyerangan itu bisa diganjar dengan hukuman berat. “Siapa saja yang bunuh suami saya, saya ingin mereka semua dihukum seberat-beratnya. Saya hanya meminta itu. Dan berharap aparat hukum adil memberi sanksi pelaku,” katanya. (Hefrizal/David Linunggana)

loading...