PB-Denpasar : Kerusuhan yang terjadi di Propinsi Bali periode akhir tahun 2015 lalu masih menimbulkan luka yang mendalam di hati korban pembunuhan dan penganiayaan anggota kelompok Baladika. Di dua lokasi yang berbeda yaitu di Lapas Kerobokan dan di Jalan Tengku Umar, empat orang anggota Baladika terbunuh mengenaskan,korban anggota kelompok Baladika terbunuh secara sadis dan keji oleh kelompok Laskar Bali karena ditebas senjata tajam samurai dalam keadaan tidak bersenjata, sehingga tidak sempat melakukan perlawanan dan mempertahankan diri. Mereka korban keganasan akhirnya meninggal dunia di RS. Sanglah karena luka yang sangat parah bersimbah darah.

Penguasa setempat yang pada saat itu hingga kini memegang kendali pemerintahan dan  memegang tampuk kekuasaan tertinggi sebagai pucuk pimpinan utama di wilayah Propinsi Bali yaitu Gubernur Bali I Made Mangkupastika, Kapolda Bali Inspektur Jenderal Sugeng Priatno dan Ketua Harian Laskar Bali I Ketut Rochineng Juga merangkap jabatan sebagai ketua SKPD Propinsi Bali ini hanya bungkam paska peristiwa terjadinya pembunuhan anggota kelompok Baladika maupun setelah terjadinya peristiwa tersebut, mereka semua seharusnya adalah merupakan pengayom rakyat, dimana mereka berada pada saat terjadi peristiwa tragis tersebut.

Sebagai pemegang tampuk pemerintahan tertinggi di daerah Gubernur Bali, Kapolda Bali dan Pangdam Udayana semestinya jauh sebelumnya sudah dapat mencium gelagat adanya kemungkinan akan terjadinya kerusuhan dan bukan bahkan berdiam diri dan tidak melakukan langkah-langkah cepat guna melakukan pengamanan yang dapat mengantisipasi kemungkinan menjalarnya tragedi kerusuhan semakin jauh dan keadaan semakin memanas, terkecuali jika peristiwa pembunuhan ini memang dibiarkan terjadi karena adanya maksud-maksud tertentu di kalangan elit-elit politik, namun janganlah rakyat kecil yang harus dikorbankan.

Peristiwa pembunuhan dan penganiayaan di Lapas Kerobokan dan di Jalan Tengku Umar yang dilakukan kelompok Laskar Bali terhadap anggota Baladika sebagai direncanakan dan bukan bentrok, Bagaimana pada saat itu pihak Laskar Bali melakukan penyerangan dengan bersenjatakan Samurai dan senjata tajam lainnya membacok anggota Baladika yang dalam keadaan tanpa senjata tidak bisa melakukan perlawanan apa-apa dan dibuat tidak berdaya dibacok dan dianiaya oleh Laskar Bali dan mati mengenaskan.

Dengan terjadinya peristiwa ini, Bali sebagai tujuan wisata internasional warga asing yang pada saat terjadinya kerusuhan kebetulan berada di Bali tentu mengetahui kejadian itu, ini akan menjadi preseden buruk tentang keamanan Bali saat ini dan warga asing tidak mau lagi untuk datang berdarmawisata ke tanah Bali, kecuali para pelaku pembunuhan kelompok Laskar Bali terhadap anggota Baladika segera ditangkap dan dipenjarakan namun tidak terjadi rekayasa hukum yang menukar pelaku pembunuhan dan ditukar pihak lain yang dibayar untuk dipenjara.

Apabila pelaku pembunuhan yang dilakukan pihak Laskar Bali terhadap anggota Baladika telah ditangkap dan dipenjarakan, dan Bali sudah dinyatakan aman tentulah wisatawan mancanegara akan merasa nyaman datang berdamawisata ke tanah Bali lagi, dan Bali sebagai tujuan wisata akan ramai kembali dikunjungi wisatawan asing. Indonesia negara hukum, tidak ada satupun kebal hukum baik dari kalangan Pejabat maupun rakyat biasa, hukum harus ditegakan, pelaku pembunuhan harus dihukum seberat-beratnya untuk ditangkap dan dipenjarakan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.  (Hefrizal/David Sinulingga)

loading...