PB, Jakarta – Kasus yang melibatkan Saipul Jamil atas perbuatan asusila terhadap korbannya remaja putra berumur 17 tahun, DS, akhirnya mendorong pihak Komisi Penyiaran Indonesia untuk mengeluarkan surat larangan kepada para artis pria ataupun pembawa acara pria suatu siaran untuk berlaku seperti seorang wanita.

Surat yang dikeluarkan pada tanggal 23 Februari 2016 ini bersifat penting dan harus segera di laksanakan oleh seluruh Direktur Utama Lembaga Penyiaran di Indonesia.

Sesuai dengan kapasitasnya KPI, sebagaimana diatur dalam UU nomor 32 tahun 2012 tentang penyiaran (UU Penyiaran), berwenang untuk mengawasi pelaksanaan peraturan dan Pedoman Perilaku Penyiaran serta Standar Program Siaran (P3 dan SPS) KPI tahun 2012, serta menampung, meneliti dan menindaklanjuti aduan masyarakat.

Menurut KPI surat edaran terkait dengan larangan perilaku para artis, talent, pembawa acara ataupun isi acara lainnya, baik utama maupun pendukung sudah pernah dilayangkan sebelumnya.

Namun pihak stasiun televisi tetap saja membandel dan terkesan membiarkan hal ini, dan parahnya menurut KPI, pembiaran ini seakan membenarkan perilaku para kaum yang digolongkan dalam kelompok LGBT, di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut hal-hal yang ditidak dibenarkan oleh KPI untuk stasiun penyiaran ;

1. Gaya berpakaian kewanitaan.

2. Riasan (make up) kewanitaan

3. Bahasa tubuh kewanitaan ( termasuk namun tidak terbatas pada gaya berjalan, gaya duduk, gerakan tangan, maupun perilaku lainnya )

4. Gaya bicara kewanitaan.

5. Menampilkan pembenaran atau promosi seorang pria untuk berperilaku kewanitaan.

6. Menampilkan sapaan terhadap pria dengan sebutan yang seharusnya diperuntukkan bagi wanita.

7. Menampilkan istilah dan ungkapan khas yang sering digunakan kalangan pria kewanitaan.

Ketujuh larangan itu menurut KPI untuk menghormati norma kesusilaan dan kesopanan yang berlaku di masyarakat, terutama dampaknya bagi anak-anak dan remaja.

IMG_20160224_200311

(Jall)

loading...