PB, Internasional – Yahya Jammeh, Presiden Gambia, Afrika Barat telah mengeluarkan pernyataan yang membuat para pelaku LGBT berpikir dua kali masuk ke negaranya.

Walaupun Gambia dibawah kepemimpinannya selama ini selalu menerima bantuan kemanusiaan dari Amerika Serikat, negara yang juga memberikan toleransi kepada LGBT sangat luas, namun Yahya tetap teguh dan tegas memegang ajaran kepercayaannya, terkait dengan pelaku homoseksual dan lesbian.

Yahya memberikan isyarat kepada mereka dengan menyebutkan jika mereka didapat berada di Gambia, maka mereka akan menyesali karena telah dilahirkan di dunia ini, namun dia tidak menjelaskan bentuk penyesalannya.

” Homoseksualitas adalah anti-Tuhan, anti-manusia, dan anti-peradaban. Homoseksual tidak diterima di Gambia. Jika kita menangkap Anda, Anda akan menyesal mengapa Anda lahir,” ujar Yahya tegas, kepada warganya.

” Saya memiliki kerbau dari Afrika Selatan dan Brazil, mereka tidak pernah berkencan satu sama lain. Kami siap untuk makan rumput, tapi kami tidak akan berkompromi pada ini. Memungkinkan homoseksualitas berarti memungkinkan hak setan. Kami tidak akan mengizinkan kaum gay di sini,” tambah Yahya, ketika membuka kegiatan Parlemen Negara Gambia.

Yahya Jammeh adalah Presiden Gambia yang mulai berkuasa pada tahun 1994, melalui sebuah kudeta damai.

Selama kekuasaannya Yahya memang terkenal tegas dalam menjalankan kekuasaannya, bahkan Yahya berhasil menekan tingkat kriminalitas di negaranya, dan bersamaan menyerukan perdamaian.

“Kadang-kadang Anda mendengar banyak suara tentang hukum negara ini atau pernyataan saya, namun biarkan saya membuatnya sangat jelas, jika Anda ingin aku menyinggung Agamaku dengan memberikan bantuan, Anda membuat kesalahan besar, Anda tidak akan bisa menyuap saya untuk melakukan apa yang jahat dan durhaka,” ujarnya kepada The Point, sebuah media cetak di Banjul, Gambia.

Sementara itu Amerika sendiri masih mempertahankan keberadaan keduataan besar mereka di Gambia, walaupun sudah tentu menyinggung sebuah kebijakan yang diterapkan di Amerika, yang didukung oleh beberapa perusahaan besar.

Sebelumnya Gambia sempat mendapatkan sanksi dari Amerika, namun tahun 2002, Amerika kembali membuka sanksi mereka dengan memberikan bantuan kemanusiaan, pembangunan demokrasi dan bantuan pendidikan.

Menurut situs Kedutaan Besar Amerika, Pemerintah Gambia, dianggap sebagai salah satu negara yang telah memberikan dukungan nyata dalam memerangi terorisme.

(Jall)

loading...