PB, Jakarta – Perseteruan menuju kursi nomor satu DKI Jakarta semakin memanas, ketika bermunculan calon-calon yang pantas untuk ikut bertarung.

Walaupun sampai saat ini masih sebatas Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang menyatakan maju bersama pasangannya Heru melalui jalur independen, namun hal ini bukan menjadi sebuah jalan yang mulus.

Ahok yang sering mengeluarkan kalimat kontroversial bahkan terkesan semaunya, menjadi blunder, namun hal ini bukan membuat Ahok melunak, beberapa kejadian belakangan seperti terungkapnya penggunaan aset pemprov oleh kelompok yang menamakan diri Teman Ahok yang menjadi pengumpul KTP untuk Ahok, membuat miris sebagian warga Jakarta.

Bahkan ketidaksukaan terhadap Ahok ditunjukkan dengan pembuatan hastag yang menyerang Ahok karena sikapnya yang memang arogan.

Kali ini seorang Ketua Umum Persatuan Karyawan Film dan Televisi (KFT) Indonesia, Febryan Adhitya mengajukan diri untuk ikut bertarung, ” saya siap, Jakarta milik kita semua, namun saya merasa sanggup untuk memberikan yang terbaik untuk Jakarta dan pembenahannya,” ujarnya.

Febryan tidak tanggung-tanggung, rencana menggandeng seorang Gita Wirjawan, mantan Mendagri era SBY, tercetus langsung, ” Beliau orang yang juga sangat pantas untuk memimpin Jakarta untuk perubahan lebih baik,” ujar Febryan.

Keinginan untuk menggandeng dan maju bersama Gita Wirjawan sebagai pasangannya menurut Febryan adalah hal yang tetbaik bagi Jakarta.

Terpilihnya Gita, karena selain menguasai masalah ekonomi bisnis dan usaha, Gita juga orang yang pantas untuk mempersiapkan Jakarta dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean.

“Kita tidak bisa membiarkan Jakarta menjadi penonton, ketika serbuan negara lain akibat MEA, dan Gita Wirjawan adalah orang yang tepat untuk menyelesaikan ini semua,” ujar Febryan tegas.

Febryan juga prihatin ketika kejadian antara angkutan umum dan versi online menjadi sebuah kekerasan, hal ini mengungkapkan jika masyarakat kita masih belum siap untuk berkompetisi.

“Semuanya adalah kebijaksanaan pemimpin, jika pemimpin mengerti sumbernya maka kompetisi yang bermuara dari kesenjangan tidak akan terjadi,” ujar Kusumawati, dari Ormas Barisan Republik.

Menurut Wati, persoalan kesenjangan masyarakat, dikarenakan beberapa kebijakan berjalan sendiri-sendiri, ” tuntutan para supir taxi dan angkutan umum lainnya, dan juga tuntutan para pelaku angkutan online sama saja, tapi perbedaan perlakuan yang mengakibatkan kejadian ini terjadi,” ujar Wati yang menyaksikan kejadian di lokasi demo.

Wati sangat percaya seorang Gita Wirjawan mampu memecahkan persoalan ini, karena menurutnya Gita memiliki visioner yang mampu melihat kondisi ini.

“Sebagai pengusaha sukses dalam bisnis grupnya dan mensejahterakan karyawannya, bukan hal mudah, jika masyarakat Jakarta bisa sejahtera, maka tidak perlu sampai terjadi perseteruan antara pengemudi angkutan biasa dan angkutan online,” ucap Wati.

Wati mengingatkan, suka tidak suka dengan kehadiran MEA maka kompetisi antara warga setempat dan pendatang, akan semakin membuka kesenjangan, namun jika penguatan ekonomi kerakyatan bagus, maka para pendatang dari negara lain akan berpikir dua kali untuk bisa mengambil kesempatan ini.

“Kejadian ini mengungkapkan adanya sebuah lobang yang harus segera ditutupi dan yang pantas adalah Gita Wirjawan, yang memiliki pengalaman baik di dalam negeri maupun luar negeri,” ujarnya tegas.

Sementara posisi Febryan sebagai seorang pekerja seni dan juga seorang organisator yang berasal dari nol hingga bisa menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Persatuan KFT, adalah hal luar biasa.

“Pencapaian Febryan sangat fenomenal, menduduki jabatan ketum KFT karena kepercayaan rekan-rekannya sesama artis film yang menganggap seorang Febryan mampu memenajemen organisasi,” ujar Wati.

Wati juga percaya, jiwa seni yang dimiliki oleh Febryan adalah salah satu jawaban bagi warga Jakarta yang memang kompleks karena berasal dari berbagai daerah.

(Jall)

loading...