PB, Jakarta – Rupanya kebohongan Ahok semakin terkuak, ketika beberapa waktu lalu dengan tegas mengatakan jika dirinya tidak mengenal sama sekali yang namanya Teman Ahok (TA)

“Itu hanya akal-akalan dia (Ahok) saja, karena persoalan penggunaan bangunan milik pemprov akan terbuka lebih cepat jika dia mengakui mengenal Teman Ahok,” ujar Presiden Gerakan Pribumi Indonesia, Bastian P. Simanjuntak.

Menurut Bastian dengan terungkapnya aset pemprov yang dipakai oleh TA atas dasar pengakuan dari PDIP, mengakibatkan Ahok jengkel dan mulai menyinggung keberadaan penggunaan aset pemprov termasuk partai PDIP dan Gerindra.

” Dia (Ahok) mulai melakukan segala macam cara agar persoalan penggunaan aset pemprov oleh TA, tidak berlanjut jauh, termasuk mengeluarkan pernyataan jika aset milik pemprov juga dipakai oleh partai,” ujar Bastian.

Perhitungan Bastian, jika Ahok sebenarnya sudah mengetahui keberadaan Teman Ahok sejak lama, hanya saja untuk menutupi jejak proses penggunaan aset pemprov, Ahok bersikeras tidak mengenal, karena dengan tidak mengenal TA, maka TA bebas melakukan apapun termasuk memakai aset pemprov.

Rupanya kebohongan Ahok terkuak, menurut Bastian, kebohongan ini justru terbongkar dengan sendirinya ketika Ahok mengeluarkan pernyataan jika banyak partai yang juga memakai aset pemprov.

Namun untuk mengelabui masyarakat, maka dibuatlah sebuah “adegan” proses penggunaan, dengan menceritakan jika gedung itu disewa oleh Hasan Nasbi, pendiri Lembaga Survey, Cyrus Network, sebesar Rp. 500 juta, dari BUMD, sebagai penyewa pertama kepada pemprov.

“Ketika berita ini mencuat ke permukaan, tidak ada satupun bukti otentik yang menunjukkan adanya surat perjanjian sewa menyewa, baik pemda ke pihak Perusahaan Daerah, maupun BUMD dengan Hasan Nasbi, entahlah kalau sekarang, (surat perjanjian sewa) pasti sudah ada,” singgung Bastian.

Maka Bastian menambahkan, wajarlah jika Ahok merasa keberatan jika temannya yang sudah mulai kesulitan mengumpulkan KTP, dan ditambah dengan persoalan pemakaian aset pemprov menjadikan kondisi elektabilitasnya mulai menurun.

” Ahok tersinggung, merajuk kayak anak kecil, karena merasa Gubernur, lalu bisa menyediakan tempat untuk kepentingan pribadinya, karena merasa partai juga memakai aset pemprov,” ujar Bastian tersenyum.

Kejengkelan Ahok rupanya ditumpahkan kepada wakilnya saat ini, Saiful Djarot yang juga kader PDIP, dengan menyuruh Djarot mengeluarkan seluruh perangkat milik PDIP dan partai lainnya, dari aset milik pemprov, salah satu alasan Ahok, karena dianggap tidak membayar sewa.

Namun Djarot malah balik mengatakan jika penggunaan aset pemprov oleh partai sudah melalui mekanisme yang benar, dan ini sudah berjalan sejak puluhan tahun lalu.

Dan Djarot juga menyinggung jika Partai sudah jelas berbeda jauh dengan Teman Ahok.

“Maksud Djarot sudah jelas, partai adalah sebuah institusi resmi dan bersinggungan langsung dengan pemerintah, beda dengan Teman Ahok yang hanya sebuah perkumpulan tidak resmi dan diperuntukkan bagi kepentingan pribadi,” ujar Bastian.

Saat ini Djarot sedang berupaya untuk melakukan inventarisasi aset milik pemprov, yang diperkirakan nilainya bisa mencapai hingga Rp. 300 trilyun.

Saat ini partai yang paling banyak menggunakan aset milik pemprov adalah PPP, Partai Golkar dan PDIP.

(Jalu)

loading...