PB.Com, Jakarta-Sekjen PAN, Eddy Soeparno berpendapat bahwa  gini ratio Jakarta menurun dari 0,418 tahun 2014 menjadi 0,403 tahun 2015, tetapi sebenarnya tidak ada perbaikan secara riil dari kaum miskin.

“pergeseran gini ratio terjadi karena penurunan ekonomi dari kaum berpenghasilan tinggi, bukan karena kenaikan pendapatan kaum miskin,” ungkap Eddy di Jakarta Pusat, sesaat lalu.

Komitmen pemerintah Jokowi-JK berniat menurunkan gini ratio menjadi 0,3. Hal ini harus dikejar oleh DKI Jakarta sebagai barometer perekonomian Indonesia, dan cukup sulit melakukannya jika melihat model pembangunan Jakarta.

“Model arah pembangunan Jakarta saat ini lebih kepada struktur, terlihat kasat mata dan sporadis, ungkap Eddy.

Ia menilai, sebaiknya Jakarta fokus menjadi smart city. “Sederhana saja, seperti yang dilakukan Ridwan Kamil di Bandung.  ICT menjadi basis untuk menumbuhkembangkan Jakarta ke depannya yang berfokus pada 3 hal,” paparnya.

Pertama, penataan lalu lintas yang kepadatannya bisa dikurangi dengan aplikasi smart city. Kedua, efisiensi energi  dan ketiga, adanya jaminan keamanan publik.

“Pengembangan smart city bisa mengarah pada bidang ekonomi baru bagi Jakarta, seperti ekonomi kreatif. Selain itu juga ekonomi kerakyatan perlu disorot, fokus ke pasar dan penataan pasar sehingga rakyat kecil bukan hanya jadi obyek revitalisasi tetapi juga subyek di dalam pengembangan ibukota,” jelasnya.

Eddy kemudian meringkas prasyarat smart city, “Secara konseptual dikembangkan, kemudian dibentuk policy-nya, selanjutnya engagement dengan masyarakat dimana akan dilaksanakan. engagement menjadikan masyarakat sebagai subyek, memahami potensi dimana mereka bisa berkembang,” pungkasnya. (Beb)

loading...