PB, Jakarta – Kepala Staf Komando Armada RI Kawasan Barat (Kasarmabar) Laksamana Pertama TNI Yudo Margono, S.E., mewakili Pangarmabar membuka sidang uji kompetensi lisan dan uji riwayat hidup bagi calon Komandan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) jajaran Koarmabar di Aula Yos Soedarso, Markas Komando (Mako) Koarmabar Jalan Gunung Sahari No. 67 Jakarta Pusat, Kamis (24/3).

Uji kompetensi tersebut diikuti 11 Perwira TNI Angkatan Laut terdiri dari 10 orang berpangkat Perwira Menengah (Pamen) dan seorang Perwira Pertama (Pama).

Membacakan amanat Pangarmabar, Kasarmabar antara lain mengatakan bahwa uji kompetensi lisan dan uji riwayat hidup jabatan calon komandan KRI di jajaran Koarmabar ini merupakan cara yang dilaksanakan Koarmabar untuk mengetahui apakah kompetensi yang dimiliki perwira peserta uji kompetensi telah memenuhi standar kompetensi yang ditentukan. Keberhasilan organisasi ditentukan oleh kualitas personel, sehingga diharapkan melalui pelaksanaan uji kompetensi ini diperoleh calon komandan KRI yang benar-benar memahami dan mumpuni terhadap bidang tugasnya, dan Komandan KRI akan membawahi prajurit pengawak yang harus selalu siap melaksanakan tugas yang diemban.

Menurut Pangarmabar, dalam uji kompetensi terdapat beberapa elemen utama yang harus diperhatikan, di antaranya konsep diri, pengetahuan dan keterampilan. Hal tersebut merupakan modal dasar bagi komandan KRI dalam melaksanakan tugasnya kelak. Di samping itu juga sebagai sarana untuk mengetahui keberhasilan pembinaan yang selama ini dilaksanakan Koarmabar. Dihadapkan dengan perkembangan lilngkungan strategis saat ini peran komandan KRI merupakan kunci kesuksesan TNI Angaktan Laut di lapangan dalam mencerna dan menindaklanjuti kebijakan pemimpin TNI Angaktan Laut di bidang maritim. Profesionalisme yang telah melekat pada seorang komandan KRI tidak cukup tanpa adanya karakter yang kuat dalam mencapai tujuan organisasi.

Kasarmabar mengatakan tantangan tugas ke depan semakin berat dengan kompleksitas permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Permasalahan sengketa wilayah yang tak kunjung selesai di Laut China Selatan berdampak pada kebijakan pemerintah. TNI angkatan Laut telah menindaklanjuti seituasi tersebut dengan melaksanakan perkuatan unsur gelar di perairan Natuna. Kasus pencurian ikan di perairan Natuna yang terjadi beberapa waktu yang lalu oleh nelayan China merupakan bukti nyata bahwa kedaulatan dan keamanan perairan Natuna belum sepenuhnya tercapai. Kehadiran unsur di perairan Natuna secara intens merupakan prioritas utama gelar unsur Koarmabar saat ini. Dengan segala keterbatasan yang dihadapi, terciptanya kedaulatan dan stabilitas keamanan wilayah tersebut menjadi tujuan Koarmabar yang harus dicapai.

Hadir dalam acara tersebut para Asisten Pangarmabar, para Dansatuan jajaran Koarmabar, Kadiskumarmabar, Asops Pangkolinlamil, Dansat Survai Dishidros serta Kepok II OSE Poklit Dishidros.

(Kamal/Dispenarmabar)

loading...