PB, Jakarta – Rupanya ucapan dari salah satu Komisioner KPK, Alex Marwoto yang mengatakan jika kasus Sumber Waras masih belum ditemukannya niat jahat, maka KPK belum bisa melanjutkan pemeriksaan kepada Ahok, semakin bergulir.

Tidak kurang dari pakar hukum mencoba untuk memberikan pencerahan, terkait dengan maksud niat jahat yang juga masuk dalam area istilah hukum.

Menurut akun Taufik Basari, Advokat, Dosen dan juga Ketua DPP Partai Nasdem, yang dimaksud dengan niat jahat dalam teori hukum pidana adalah “Mens Rea” atau ” Guilty Mind” dan tanpa itu bukanlah pidana.

Menurutnya dalam teori hukum ada yang disebut dengan “Tiada Pidana Tanpa Kejahatan” atau “actus reus non facit reum nisi mens rea” 

Basari menambahkan perdebatan terkait dengan penetapan mens rea dikarenakan kasus ini masih dianggap abu-abu atau belum jelas apakah itu perdata, pidana atau administrasi. Bukan pada hal yang sudah jelas.

Terkait dengan kasus Sumber Waras dimana hasil penyidikan BPK sudah terang benderang, dan KPK juga mengakui adanya kerugian negara, Basari malah balik mengatakan jika pertanyaan tersebut tidak relevan, dan tidak sesuai konteks.

“Munculnya tweet persoalan niat jahat atau mens rea khan dari ucapan KPK, kenapa tidak relevan ? Atau karena Taufik Basari takut keluarkan pernyataan karena dia di Nasdem ?” Tanya Darwis Sibua tokoh muda Malut di Jakarta.

Namun Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, justru mengatakan jika persoalan penetapan mens rea harusnya di lakukan oleh pihak pengadilan bukan oleh penyidik.

“Niat jahat atau Mens rea bukan tugas penyidik. itu serahkan ke pengadilan. Penyidik hanya kumpulkan 2 alat bukti,” tulis Fahri Hamzah.

” Dalam persidangan akan ada konfrontasi..adu alat bukti dan saksi…niat jahat bisa terungkap atau tidak..” pungkas Fahri.

(Jall)

loading...