PB, Manado – Manado sebagai ibukota Propinsi Sulawesi Utara memang memiliki banyak daya tarik tersendiri.

Selain Pulau Bunaken, keramahan warga dan kecantikan gadis-gadis Minahasa berkulit kuning langsat, Manado merupakan salah satu destinasi wisata yang menjanjikan banyak hal.

Inilah yang menyebabkan banyak warga dari berbagai daerah ingin menjejakkan kaki di ‘Kota Tinutuan’ sebutan lain Manado.

Hanya saja, dibalik kenyamanan yang ditawarkan, ‘Manado’ malah dikritik oleh warganya sendiri.

Pesatnya pembangunan daerah ini telah melupakan nilai-nilai budaya lokal Kota yang mayoritas penduduknya berasal dari suku Minahasa.

Terlalu terbuka dengan pluralisme modern membuat pemerintah cenderung mengadopsi budaya barat dan menepiskan jati diri sebagai bangsa yang memegang teguh adat ketimuran.

Ornamen-ornamen khas Minahasa mulai tergerus diganti ornamen modern di hampir setiap bangunan megah yang berdiri.

“Coba lihat patung (setengah) telanjang yang ada di depan Manado Town Square (Mantos), apa itu ornamen Minahasa?” ujar Dicky Maengkom, salah satu tetua adat Minahasa, Rabu (6/4).

Pembangunan menurut Maengkom harus terus berjalan, hanya saja, harus tetap mengangkat budaya sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat.

“Kita harus menggunakan motto dimana kaki berpijak disitu langit dijunjung,” urainya lagi.

Selain itu, Maengkom yang bergelar Walian Wangko Brigade Manguni Indonesia ini menyorot soal Bandara Sam Ratulangi sebagai pintu masuk penerbangan yang tak memiliki ciri khas daerah.

Pelestarian budaya seakan tak ditunjang melalui pintu masuk Bandara bertaraf internasional tersebut.

Kontras dengan daerah lain di Indonesia yang terus menjunjung tinggi budaya ditengah-tengah geliat pembangunan berbasis modernisasi. Hasilnya, nilai budaya dan kemajuan pembangunan berjalan seiring tanpa ada yang ditinggalkan.

“Kita lagi perjuangkan itu sekarang. Dalam waktu dekat kami akan menyurat ke Pemerintah propinsi dan DPRD Sulut untuk segera membuat Perda tentang ornamen daerah. Kalau tidak ditindaklanjuti, kami akan melakukan aksi besar-besaran,” ancam dia.

Alasan kuat Maengkom untuk terus mempertahankan nilai-nilai budaya dalam pembangunan daerah adalah menjadikan budaya sebagai pijakan pemersatu bangsa.

(Tommy)

loading...