PB, Jakarta – Ahok dengan sesuka hatinya menganggap jika para warga yang saat ini hanya bisa bertahan di atas perahu, adalah manusia yang tidak perlu ditanggapi dan tidak perlu dikasihani.

Sementara beberapa hari kedepan cuaca di Kota Jakarta sudah mulai memasuki musim penghujan, beberapa kali langit terlihat mendung, walaupun tidak sampai turun hujan, namun bukan berarti tidak membuat khawatir buat mereka.

Sementara para penghuni rumah susun yang dianggap Ahok lebih baik karena sudah mau masuk menempati lokasi di Rusun Marunda dan Rawa Bebek.

Berbekal sepucuk surat perjanjian, mereka memasuki petak-petak rumah susun yang dibuat melalui proyek pemda, dan sesuai ucapan pemprov jika mereka akan menempati selama 3 bulan gratis dan berikutnya membayar sewa, namun para penghuni juga tidak tahu berapa biaya sewa yang harus dibayar nanti, di luar dari listrik dan air.

Setelah diperhatikan ternyata sepucuk surat yang dijadikan tanda bukti sebagai penghuni di lokasi Rumah Susun di Marunda untuk warga dari Wilayah Aquarium Pasar Ikan, Luar Batang, tidak disebutkan sama sekali adanya pernyataan yang boleh menempati selama 3 bulan gratis.

” Jadi mereka hanya dijanjikan secara lisan, artinya mereka bisa saja terusir sebelum 3 bulan, dengan cara disuruh membayar sewa sebelum habisnya waktu 3 bulan, dengan berbagai alasan, ini berbahaya,” ujar Abdullah Kelrey Presidium Nusa Ina Institute.

Bahkan lucunya menurut Dullah, dirinya sempat kaget ketika mengetahui ternyata para manusia perahu ini adalah penduduk yang sudah ada sejak turun temurun.

“Bahkan ada yang sudah merupakan generasi ke lima, berarti sudah bisa dikatakan ratusan tahun mereka disana, dimulai dari para buyutnya,” ujar Dullah, mereka memiliki KTP, membayar Pajak Bumi dan Bangunan yang pembayarannya ke pemerintah melalui Kelurahan.

Sejarah berdirinya Kawasan Pasar Ikan sendiri dimulai pada tahun 1631 dan dinamakan Vischmarkt oleh pemerintah Hindia Belanda dan berawal di pinggir Sungai Ciliwung.

Kemudian dipindahkan ke lokasi Pasar Ikan sampai akhirnya dengan penggusuran oleh Pemprov yang dibekingi oleh Polri dan TNI.

Sementara itu kondisi di Rusun Marunda sendiri bukannya tanpa ada permasalahan lainnya, menurut Elis Sutanudjaja melalui akunnya @elisa_jkt, jika dulunya persoalan di Rusun Marunda adalah seringnya macet Lift dan juga kalau mau naik Lift sering ada yang melakukan kejahatan dengan cara membayar “pajak”,

Elis sendiri teringat kejadian tersebut ketika menanggapi sebuah akun atas nama @kuchuls yang mengaku jika akhirnya dirinya sadar, kenapa mereka tidak mau menempati Rusun Marunda, selain jauh, transportasi yang buruk, dan semuanya jauh dari mana-mana.

(Jall)

loading...