PB, Jakarta – Kunjungan wartawan bersama dengan para nelayan melihat lokasi pengurukan pasir untuk reklamasi di Pulau G oleh pengembang dari anak Perusahaan milik Agung Podomoro Land, PT. Muara Wisesa Samudera, tidaklah mudah.

Walaupun jarak tempuh dengan menggunakan perahu nelayan yang biasa mancing di lokasi Pulau G, dengan jarak tempuh 10 menit, namun pihak perusahaan sudah menyiapkan 15 peragu yang berisi sekuriti perusahaan untuk menghalau perahu-perahu milik nelayan yang mengangkut wartawan dan beberapa organisasi lingkungan seperti Walhi.

Bahkan wartawan pembawaberita.com sempat marah karena sebuah perahu berukuran besar milik sekuriti dengan nekad menabrak ujung depan perahu yang ditumpangi pembawaberita.com, yang berukuran lebih kecil, yang sedang bersama beberapa fotografer dari beberapa media, termasuk media televisi.

Namun jumlah perahu yang mengangkut rombongan dari pelabuhan TPI Muara Angke, lebih banyak, akibatnya sebuah speedboat milik sekuriti hanya bisa berputar-putar namun tidak mampu mengusir.

Begitu tiba dipantai para nelayan dan masyarakat Rawa Angke langsung menuju lokasi penimbunan, bahkan salah satu sekuriti sempat bersitegang dengan warga yang memaksa naik ke atas gundukan, pasir yang mengelilingi areal rencana pembangunan gedung dan bangunan di Pulau G.

Akhirnya pihak sekuriti yang diperkirakan berjumlah hampir mencapai 50 tenaga, terpaksa membiarkan para nelayan melakukan orasi diatas gundukan pasir yang membentuk lingkaran.

Sambil menyanyikan lagu-lagu kebangsaan para nelayan berkumpul menjadi satu dan mulai melakukan orasi, yang menuntut Presiden Jokowi mengambil langkah tegas untuk menghentikan kelanjutan pembangunan Pulau G.

Usai berorasi dan menyanyikan beberapa lagu, warga kemudian berpindah tempat ke arah pelabuhan darurat sebagai tempat singgah kapal-kapal milik perusahaan.

Pembawaberita.com sendiri mencoba untuk meminta klarifikasi kepada komandan sekuriti PT. MWS terkait dengan kejadian penabrakan yang memang disengaja dilakukan oleh pihak sekuriti, perusahaan.

Beberapa anggota sekuriti yang coba ditanyakan hanya terdiam, bahkan terkesan mencoba menakuti, namun pembawaberita tetap memaksa, dan akhirnya mengatakan jika dirinya tidak tahu dan tidak mengenal siapa yang menjadi komandan, dengan alasan jika dirinya adalah petugas sekuriti dari pusat dan hanya sendirian.

Sementara itu Wakapolres Pelabuhan Muara Angke, Kompol Ruly Indra W. mengatakan personil kepolisian yang diturunkan berjumlah 60 orang, “sebagian dari anggota Polres dari Kepulauan Seribu, Polres Jakarta Utara dan Polairud yang ditempatkan di lokasi reklamasi.” Ujar Ruly yang diwawancarai di Pelabuhan TPI sebelum berangkat ke lokasi.

Ruly mengatakan jika anggota Polisi yang berada di lokasi untuk membantu melancarkan aksi, “kami hadir untuk menjaga segala kemungkinan, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Namun Pembawa Berita yang mencoba untuk mencari keberadaan anggota Polisi yang dimaksud Ruly ternyata tidak ada, kecuali anggota sekuriti yang mengaku dari pihak perusahaan, yang memakai pakaian safari dan ditutupi dengan baju pelampung.

Ruly yang coba dikonfirmasi terkait dengan hal tersebut tidak mengetahui terkait dengan anggota sekuriti yang dimaksud, namun Ruly tidak bisa menjawab terkait dengan tidak adanya anggota polisi yang berpakaian seragam polisi.

Sementara itu Sekjen Kesatuan Nelayan Nasional Tradisional Kuat Wibisono mengaku kaget juga dengan anggota sekuriti yang hadir, “jujur tidak ada satupun yang saya kenal, sementara sekuriti yang hampir tiap hari saya kesana sudah saya kenal baik semua sekuriti yang biasa berjaga, dan mereka juga kenal saya,” ujar Kuat.

Kuat menambahkan jika dari anggota keamanan yang dia kenal hanya Wakapolres Pelabuhan Tanjung Priok Kompol Ruly, “yang banyak hanya intel baik dari Polres dan Polda,” ujar Ruly, sementara anggota yang mengenakan seragam polisi hanya terlihat di Pelabuhan TPI Muara Angke.

Sementara warga sendiri, mengakui jika selama ini mereka sangat kesulitan untuk masuk ke lokasi, “jangankan masuk, dekat saja sudah susah, bahkan kalau mau pergi mancing melewati lokasi G, kami di awasi secara ketat, dengan cara membuntuti, kalau ada yang dekat langsung diusir,” ujar Haji Hasan, warga Muara Angke.

(Jall)

loading...