PB, Kendari : Kepala Staf Korem 143/HO Letkol Inf. Drs. Alamsyah M.Si menyambut kepulangan tujuh anggota Yonif 725/Woroagi yang tergabung dalam Satgas Yon Komposit TNI Konga Garuda XXXV-A. (19/April/2016) Pukul 15,00 Wita di Makorem 143/Ho

Sebanyak 800 prajurit TNI yang terdiri dari 650 dari TNI AD, 100 dari TNI AL dan 50 dari TNI AU yang dipimpin oleh Letkol Inf M. Herry Subagyo sebagai Komandan Satgas, yang sehari – hari menjabat sebagai Danyonif 721/Makassau.

IMG_4692Ketujuh anggota Yonif 725/Wrg yang tergabung dlm Satgas Yon Komposit TNI Konga Garuda XXXV-A UNAMID  yaitu  Serka Martinus S, Sertu Risfan, Sertu Reymond, Sertu Kristofus K, Serda Gilang, Kopda Amirullah dan Praka Arfan

Upacara penyambutan tersebut selain dihadiri pejabat  Korem 143/HO juga dihadiri segenap prajurit  Yonif 725/Woroagi.

Kepala Staf Korem (Kasrem) 143/HO Letkol Inf. Drs. Alamsyah M.Si mengatakan kegiatan seremonial ini adalah sambutan terhadap ke tujuh prajurit yang telah melaksanakan tugas di UNAMID. “Sambutan kepada para prajurit kita yang terbaik yang telah melaksanakan tugas pada tugas di UNAMID yaitu pasukan ke XXXV-A bersama dengan pasukan 726 Makassar untuk pasukam 725 sebanyak tujuh orang jadi mereka adalah prajurit prajurit terbaik yang lulus seleksi mulai dari seleksi psiko kemudian kesehatan, fisik dan keterampilan khusus” jelasnya

IMG_4687Mantan Komandan Kodim Kolaka tersebut juga menjelaskan tugas yang dilaksanakan selama 13 bulan di UNAMID yaitu menjaga perdamaian, karena negara disana merupakan negara konflik. “Tugas mereka selama disana yaitu menjaga perdamaian, karena disana negara konflik kemudian hal – hal lain yang dibebankan kepada mereka, mereka melaksanakan dengan baik dan tujuh orang dalam keadaan sehat kembali ke markas” ujarnya lagi.

Serka Martinus salah satu prajurit yang tergabung dalam PBBB mengatakan dirinya sangat bersyukur karena selama mereka berada di negara tersebut tidak ada konflik sama sekali. ” pertama kita bersyukur yah karena ketika kita tiba disana kita memang tahu bahwa disana daerah paling rawan konflik yaitu antara saudara sendiri namun dengan kebudayaan indonesia yang kami bawa disana kami bisa mengambil hati masyarakat disana sehingga yang terjadi penugasan kami selalu mulus sampai selesaipun yang kami laksanakan selama 13 bulan syukur karena tidak ada konflik sama sekali” tuturnya

IMG_4622“Kegiatan yang kami lakukan disana yaitu patroli pengamanan kampung – kampung karena selalu terjadi gangguan dari kelompok pemberontak yang selalu menganggu masyarakat dengan cara itulah dia menunjukkan pemberontakkannya kepada pemerintah, nah itulah tugas kita untuk menjaga masyarakat masyarakat yang ada dikampung – kampung” tutup Martinus. (Nomilia)

loading...