PB SUMEDANG – Desta Pratama, bocah berusia 3,5 tahun harus berjuang hidup dengan penyakit yang dideritanya. Penyakit itu adalah Susp Hirschprung’s Disease (usus yang keluar dari perut).

Desta, anak kedua dari pasangan suami istri Esih Sukaesih (20) dan Deni mulyadi (26), warga Dusun Tarikolot Hilir Desa Sirnasari Kecamatan Jatinunggal Kabupaten Sumedang. Saat ini, keluarga Desta pindah ke blok Cileuweung, sebelum Cipondoh masih di lokasi Desa Sirnasari.

Desta menderita penyakit itu dari sejak usia sepuluh hari setelah dilahirkan. Menurut orang tuanya, Esih, awal mula anak laki-lakinya itu tidak bisa buang air besar dan perutnya mengalami kembung. Ia beserta suaminya langsung melakukan upaya untuk pemeriksaan ke RSUD Sumedang. Saat itu, pihak rumah sakit menyebutkan tidak kenapa-kenapa, lalu anaknya itu dibawa lagi ke rumah.

Namun, perut Desta semakin lama senakin membesar. Pihak keluarga Desta hanya bisa melakukan upaya dengan perawatan seadanya.

“Awalnya kembung, saya melakukan perawatan seadanya, sampai menginjak usia 2 tahun. Setelah itu, dilakukan operasi sehingga ususnya ini dikeluarkan dulu, agar bisa buang air besar dari usus itu,” kata Esih, kemarin.

Esih menjelaskan sampai saat ini Desta sudah melakukan 3 kali oprasi. Namun, hasil operasi belum bisa maksimal.

“Saat ini tinggal satu kali oprasi lagi,” tambahnya.

Ironisnya, keluarga kecil Desta merupakan seorang warga yang terkena dampak pembangunan waduk jatigede. Saat ini, Desta dan kedua orang tuanya harus rela tinggal dirumahnya yang berukuran 3 X 4 meter dengan kondisi rumah yang sangat memperihatinkan.

Orang tua Desta mengakui kalau kehidupannya sangat sederhana, bahkan bisa tergolong kurang. Belum lagi, Desta harus berobat jalan. Karena terkendala biaya, kedua orang tua Desta harus rela membiarkan usus anaknya seperti itu.

“Saat ini seharusnya melakukan kontrol, tapi saya tidak punya biaya. Jadi, saya harus rela melihat anak saya kesakitan,” keluhnya.

Pihak keluarga Desta berharap agar pemerintah bisa memberikan uluran tangan. Karena, mereka tidak mau peristiwa beberapa tahun silam terulang lagi. Esih memaparkan, sebelum Desta, dia juga punya anak laki-laki yang diberi nama Yogi. Anak itu mengalami penyakit yang sama, namun karena tidak tertangani, akhirnya meninggal dunia di usianya masih bayi.

“Harapan saya cuma satu, saya ingin anak saya bisa segera di operasi, karena satu-satunya jalan hanya itu,” jelas Esih.

Menurut Esih, ini merupakan operasi yang ke empat kalinya. Bisa disebut juga oprasi terakhir untuk menyembuhkan Desta. Tapi, untuk bisa dioperasi dirinya harus menunggu informasi dulu dari pihak salah satu rumah sakit yang ada di Bandung.

“Anak saya tercatat di daftaran no 496, sedangkan ini penyakit yang harus diberikan penanganan cepat. Kalau untuk menunggu sampai daftaran 496 mungkin harus menunggu beberapa tahun lagi,” jelasnya.

Tragisnya, keluarga kecil ini hanya mengandalkan hidup sehari-hari sebagai buruh tani. Mereka belum pernah menerima bantuan apapun dari pemerintah selain dari pemerintah desa setempat. Pemdes setempat sempat memberi bantuan sejumlah uang untuk menambah biaya operasi yang ke dua.

Punduh Tarikolot Hilir, Iman menerangkan, pihaknya sempat mengirimkan surat kepada wakil bupati untuk meminta bantuan. Tetapi, sampai saat ini belum ada realisasinya. Padahal, warganya ini harus mendapatkan pertolongan secepatnya.

“Dulu saya sempat mengirimkan surat ke wabup untuk masalah ini. Tapi, yang datang hanya dari pihak RSUD yang melakukan peninjauan ke rumah keluarga Desra. Sampai saat ini belum ada tindak lanjutnya,” kata dia. (Abimo)

loading...