PB, Jakarta – Kepala Staf Komando Lintas Laut Militer (Kaskolinlamil) Laksma TNI Roberth Wolter Tappangan, S.H. mewakili Pangkolimil menghadiri upacara pelepasan Latihan bersama Forum Menteri Pertahanan negara-negara ASEAN (ASEAN Defence Minister Meeting) yang berlangsung di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (25/4).

Upacara pelepasan yang dipimpin Wakil Asisten Operasi (Waasops) Panglima TNI Laksamana TNI Harjo Susmoro ini, adalah memberangkatkan Satgas ASEAN Defence Minister Meeting (ADMM) untuk bergabung dengan peserta negara ASEAN lainnya dan 8 negara mitra ASEAN ke negara Brunei Darussalam dan Singapura melaksanakan latihan Maritime Security.

ADMM adalah program Kementerian Pertahanan Forum ASEAN Defence Minister Meeting (ADMM) – Plus yang beranggotakan 10 negara ASEAN dan 8 negara mitra ASEAN (Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, India, Australia, Jepang, Korea Selatan dan Selandia Baru). Leading sector program kegiatan ini terbagi dalam wadah-wadah Experts Working Group (EWG) pada bidang-bidang diantaranya Maritime Security, Counter Terrorism, Humanitarian Mine Action, Peace Keeping Operation, Humanitarian Assistance Disaster Relief dan Military Medicine.

Sementara kegiatan latihan Maritime Security itu sendiri belangsung selama sebelas hari yaitu kegiatan tanggal 1 – 5 Mei melaksanakan Harbour Phase, kemudian tanggal 5 – 9 Mei melaksanakan Sea Phase sambil menuju Singapura dan Closing Phase pada tanggal 9-11 Mei.

Wakil Asisten Operasi (Waasops) Panglima TNI Laksma TNI Harjo Susmoro saat melepas para personel yang terlibat dalam latihan tersebut mengatakan bahwa, tantangan tradisional atau yang dikenal sebagai conventional threats, muncul dalam serangkaian kemajuan pesat pada pembangunan teknologi peralatan perang dan kemajuan dunia industri militer yang semakin canggih dan modern.

Sedangkan tantangan dan ancaman non-tradisional (non-conventional threats) yang timbul dan merupakan fenomena baru, antara lain berkisar pada aksi terorisme, keamanan maritim, pemanasan global dan perubahan iklim, kelangkaan energi dan pangan, penyakit menular dan penyelundupan manusia, obat-obatan serta persenjataan serta pembajakan udara dan perompakan di laut. Indonesia yang secara geografis berada dalam wilayah kawasan yang sama, yakni ASEAN, tidak luput dari kemungkinan dampak fenomena tantangan dan ancaman tersebut.

“Latihan ini dilaksanakan bersama 10 negara sahabat anggota ASEAN dan 8 negara mitra wicara ASEAN dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan strategi, metoda, teknik, taktik dan pendekatan, sebagai upaya membangun interoperability, dalam rangka menghadapi strategi serta besaran, luas dan kompleksitas dampak ancaman aksi terorisme dan sejenisnya,” kata Waasops Panglima TNI.

Waasops Panglima TNI Laksma TNI Harjo Susmoro menyampaikan, harus diakui bahwa memerangi aksi terorisme yang saat ini telah berkembang pesat baik skala ataupun metodanya, tidak dapat diselesaikan oleh hanya satu negara saja secara sendiri. Menurutnya, memerangi aksi terorisme dalam konteks bilateral dan regional, diperlukan suatu kerja sama yang terkoordinasi secara strategis dan komprehensif, dalam hubungan kerja sama Lintas Angkatan Bersenjata atau Lintas Nasional, dan secara simultan bersifat pre-emptif, preventif dan represif, serta dengan pra-syarat kemampuan yang harus dimiliki oleh satuan dan prajurit Tentara Nasional Indonesia.

Sementara Satgas TNI Angkatan Laut, mewakili Indonesia yang terdiri dari 96 personel KRI, Satu Unit Detasemen Jala Mengkara (Denjaka) dengan 10 personel, 1 personel staf pada Maritime Security Task Force Head Quarter dan 1 personel pada Maritime Security Exercise Planning Control Team (EPCT) dengan menggunakan KRI Sultan Iskandar Muda 367 dilepas keberangkatannya dalam sebuah upacara militer untuk mengikuti kegiatan Maritime Security Exercise di Brunei Darussalam. Perjalanan dari Indonesia menuju negara Brunei Darussalam diperkirakan menempuh pelayaran laut selama kurang lebih tujuh hari atau sekitar hari Minggu tanggal 1 Mei sudah tiba di negara Brunei Darussalam untuk mengawali latihan.

Mengakhiri sambutannya Waasops Panglima TNI Laksma TNI Harjo Susmono memberikan beberapa penekanan, yaitu: Pertama, kuasai dan pahami dengan baik, tujuan dan sasaran latihan, mengingat latihan ini tidak sekedar memenuhi program dan kegiatan yang telah kita tetapkan dan sepakati bersama. Kedua, patuhi dan cermati secara mendalam SOP (Standard Operating Procedure) dan ROE (Rules of Engagements) dalam latihan, agar mampu meningkatkan kapasitas dan kapabilitas satuan serta para prajurit sekalian secara kelompok ataupun individu, dalam membangun interoperability antara Tentara Nasional Indonesia dan Angkatan Bersenjata negara sahabat peserta latihan, dihadapkan pada kecenderungan kondisi faktual perkembangan aksi dan modus operandi terorisme saat ini dan di masa yang akan datang. Dan ketiga, laksanakan latihan dengan penuh dedikasi, semangat dan tanggung jawab, serta kuasai setiap peran masing-masing yang telah diberikan kepada para prajurit sekalian. Dan Keempat, jaga keselamatan dan keamanan diri serta kekompakan para peserta sekalian, agar mampu mencapai tujuan latihan dengan maksimal dan sempurna. Kelima, gunakan setiap kesempatan pada latihan bersama ini, guna meningkatkan kebersamaan dan saling pengertian dalam rangka memperkokoh hubungan dan kerjasama multinasional, baik secara resmi ataupun pribadi.

(Kamal/ Dispen Kolinlamil)

 

 

 

 

loading...