PB, Jakarta – Sidang pidana dengan terdakwa Yulianus “Ongen” Paonganan, Selasa (26/4) memasuki sidang ke dua dengan materi Eksepsi (pembelaan) yang diwakili oleh Pengacara dari Ihza and Ihza Law Firm.

Dalam pembacaan pembelaan, yang dibacakan langsung oleh Yusril Ihza Mahendra dihadapan tiga Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, berlangsung secara tertutup.

Menurut Yusril, Hakim memiliki wewenang untuk menentukan jika kasus ini masuk dalam kategori asusila, maka pihak hakim memiliki kewenangan untuk menetapkan sidang dilakukan secara tertutup.

“Hormatilah pendapat hakim seperti ini, karena ini kewenangan hakim yang menyatakan sidang tertutup jika perkara tersebut adalah asusila, kecuali pembacaan dakwaan bisa terbuka,” ujar Yusril yang di wawancarai usai sidang.

Sementara terkait dengan isi dakwaan oleh Kejaksaan dalam sidang pertama, Selasa (19/4) lalu, menurut Yusril dakwaan harus dibatalkan atau tidak dapat diterima.

Pertama terkait dengan kewenangan PN Jakarta Selatan, menyidangkan mengadili. Karena dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum, Sangaji, tidak dicantumkan lokasi kejadian.

Sementara dari keterangan Ongen, foto yang berisi gambar Jokowi dan Nikita di upload oleh Ongen ketika masih berada di dekat Kantor Menteri Petahanan yangbterletak di Jakarta Pusat.

Lalu dilanjutkan ketika sedang dalam perjalanan ke Tangerang danLembang Bandung sekitar bulan Desember 2015, untuk persiapan pengerjaan Drone sebanyak 3 unit untuk dipergunakan pengawasan wilayah perbatasan dan Zona Ekonomi Eksklusif Natuna.

“Sidang ini seharusnya di lakukan di Pengadilan Negeri Pusat, karena lokasi Ongen mengupload foto bukan di wilayah Jakarta Selatan,” ujar Yusril, yang menyayangkan pihak penyidik yang profesional tidak menanyakan kapan dan dimana perbuatan itu dilakukan.

Selain itu persoalan dakwaan kepada Ongen juga tidak jelas terkait dengan delik yang dikenakan kepada Ongen, “Apakah Delik penghinaan, atau delik ITE atau delik pornografi ?” Tanya Yusril.

Karena jika dikenakan delik pornografi sementara foto yang ikut disebarkan Ongen sudah lama ada dan tersebar sebelum disebarkan Ongen.

“Kalau itu foto porno, sementara yang didalam foto Jokowi dan Nikita Mirzani, masa Jokowi dan Nikita di dalam foto melakukan adegan porno dan disebarluaskan oleh Ongen ?” Tanya Yusril.

Menurut Yusril jika dakwaan tetap mengacu pada delik pornografi dengan tuduhan Ongen menyebarkan foto porno, dan peradilan ini tetap diteruskan, maka bisa dikatakan dunia peradilan sudah kacau balau.

Yusril bahkan menilai pihak Kejaksaan jika tetap bertahan dengan dakwaan penyebaran foto pornografi, justru akan menyusahkan Presiden. Karena Kejaksaan terkesan memaksakan adanya adegan pornografi baik oleh Jokowi maupun Nikita Mirzani.

(Jall)

loading...