PB, Jakarta – Efek dari tertangkapnya 5 warga China di wilayah Halim yang masuk dalam areal milik TNI AU, membuat masyarakat Indonesia marah dan tidak terima dengan kondisi ini.

Akibatnya kemarahan ini dijadikan juga momentum untuk saling mengingatkan bagaimana negara yang pernah menjadi milik suku bangsa melayu, namun akhirnya tersingkir.

Singapura menjadi contoh yang paling nyata saat ini, dimana penduduk dari etnis Melayu harus menjadi warga negara kelas tiga, dikarenakan warga kelas dua sudah mulai dikuasai oleh pendatang baru dari India.

Sementara warga kelas satu dipegang oleh warga keturuan China yang mulai melakukan berbagai pengekangan terhadap warga etnis lainnya di Singapura.

Semuanya itu dimulai ketika Perdana Menteri Lee Kwan Yee mulai menjadi Perdana Menteri Singapura, dimana secara pelan dan pasti kekuasaan kerajaan Melayu berhasil terkikis habis.

Bukan cuma itu, Singapura juga memiliki seorang Presiden, namun presiden yang keturunan Melayu hanya yang pertama, bernama Yusof Ishak (1965-1970) dan selanjutnya dipegang oleh warga dari etnis luar.

Sementara Lee Kwan Yew sendiri mulai menjadi PM sejak tahun 1959 hingga tahun 1990, dan dianggap sebagai bapak bangsa Singapura, kemudian dilanjutkan oleh keturunannya, dan sampai sekarang tetap dipegang oleh warga keturunan etnis China/Tionghoa.

Dalam sebuah foto yang disebar di sosial media, menunjukkan bagaimana Lee Kwan Yew pertama kali ingin menjadi PM, dengan berkampanye masuk ke lingkungan warga Melayu menggunakan peci dan diantar oleh warga melayu sendiri.

Hal ini ternyata menjadi sebuah perbandingan bagi seorang Harry Tanoesoedibjo yang baru saja melakukan kunjungan ke sebuah pesantren milik NU yang dikelola oleh Said Aqil Siraj.

Dan Harry Tanoe juga di dandani bagaikan seorang ustad lengkap dengan kopiah juga mendapatkan kesempatan berceramah di hadapan para santri di pesantren tersebut.

Hal ini memicu kemarahan, bahkan sebagian warga muslim melihat hal ini adalah penghinaan, dikarenakan Harry Tanoe jika ingin memberikan pidato politik sebaiknya di luar bukan di dalam mesjid.

“Itu yang ajak ke mesjid pidato otaknya sudah miring ? Kalau mau pidato politik silahkan di luar, di mesjid hanya untuk ceramah agama dan pemberitahuan yang sifatnya bersentuhan dengan umat islam,” ujar Darwis Sibua salah satu Tokoh Muda Muslim dari Maluku Utara di Jakarta.

Kemarahan Darwis dikarenakan Harry Tanoe seorang yang beragama lain dan sangat tidak pantas untuk masuk mesjid dan berceramah, bahkan Darwis mempertanyakan jika memang benar Said Aqil yang melakukan itu, maka perlu dipertanyakan logika dan akal sehatnya.

“Harry Tanoe itu ingin menjadi presiden, sama seperti Lee Kwan Yew yang ingin jadi PM pakai peci dan keliling di warga melayu, dan akhirnya sekarang warga melayu malah menjadi warga kelas dua di negeri moyang mereka sendiri,” ujar Darwis memperingati.

(Jall)

loading...