PB, Maluku – Konflik horisontal beberapa tahun lalu yang terjadi di Propinsi Maluku, Provinsi Maluku Utara dan Propivinsi Sulawesi Tengah memakan korban yang tidak sedikit.

Akibatnya proses rekonsiliasi yang dilakukan oleh berbagai pihak baik oleh swasta maupun pemerintah, berjalan lambat, namun, kepastian agar sesama anak bangsa untuk tetap bisa saling berbagi dan saling mengasihi tetap dilakukan.

Walaupun upaya rekonsiliasi itu berjalan lambat namun tetap saja tidak dihentikan, dan akhirnya warga masyarakat dari kedua belah pihak akhirnya sadar akibat dari konflik itu cukup membuat mereka sadar jika harus menanggung akibat yang sangat besar, baik secara mental maupun materi.

Dan sebuah akun milik Hafiedz Khaulani Uar, seorang pemuda muslim, yang warga Kepulauan Kei Provinsi Maluku, membuat sebuah postingan yang memperlihatkan hasil rasa kebersamaan yang sudah menjadi tradisi sejak nenek moyang suku Maluku yang dikenal dengan sebutan “Pela Gandong” yang berarti persatuan dari persaudaraan.

Hafiedz sendiri beragama Islam. Berikut tulisan yang dipostingnya, pada Senin (2/5) sekitar pukul 19.28 wit di akun facebooknya ;

2016_5_4_2_55_48_911_AM_1Beta mau kastau par DUNIA klo kamaring TGL 1 mei 2016 kaka laki laki yang pake kalung Salib ni dia pikul semen dari pagi hari sampe malam.
Knpa sampe bta mau kastau par dunia??
Karna dia pikul semen ini untuk pembangunan Masjid di Kota Tual Maluku.

Beta bangga, beta sanang karna di maluku khususnya Pulau KEI ktng hidup zg kas beda beda agama, Bukan karna beta muslim, bukan karna beta kristen tapi karna beta orang KEI.

” Saya mau memberitahu kepada DUNIA,kalau kemarin tanggal 1 Mei 2016, Kakak laki-laki (di Maluku khususnya, biasa memanggil kepada teman pria dengan sebutan kakak sebagai bentuk penghormatan sebagai bagian dari Pela Gandongyang memakai kalung Salib ini, dia memikul semen dari pagi sampai malam.

Kenapa sampai saya memberitahu kepada dunia ?

Karena dia memikul semen ini untuk pembangunan Mesjid di Kota Tual Maluku.

Saya bangga, saya senang karena di Maluku khususnya di Pulau KEI kami hidup, tidak saling membedakan Agama, bukan karena saya Muslim, bukan karena saya Kristen, tapi karena saya orang (suku) KEI.”

Postingan ini mendapatkan respon yang tidak terduga dari beberapa netizen. Dan dikomentari 287 orang, dibagikan sebanyak 848 kali, serta disukai 3,2 ribu pengguna facebook.

Robby de fretes, ” Bangga jadi orang Maluku….bangga jadi orang Indonesia…..”

Arry Mallona Khawa, ” Samua itu saja, sg (seng) ada yg beta…cuma org bodo yang membedakan agama.klu bisa samua harus bagitu.hidop org basudara…”

Andass Raossel, “Beta manangis setiap lia katong umat krsten deng islam di maluku saling baku Bantuu.. Beta bangga jadi orang maluku karna cuma orang maluku yang tau arti persaudaraan tanpa ada hubungan keyakinan ;'( … ale rasa beta rasa !! Pela Gandong sampe Mati!!”

Moh. Rofik, “Subhanallah…. indahnya persaudaraan… salam hormat kaka..”

(Jall)

 

loading...