PB, Jakarta – Kemarahan Fahira Fahmi Idris, anggota DPD RI dengan kasus yang menimpa, Yuyun (15) pelajar SMP Negeri 5 Satu Atap Kecamatan Ulak Tanding, Rejak Lebong, Bengkulu, yang harus menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan oleh 14 pemuda yang belum berumur 20 tahun.

Saat ini 12 lainnya sedang menghadapi persidangan, sementara 2 lainnya masih dalam pengejaran pihak Polres Padang Ulang Tanding (PUT).

Kemarahan Fahira akibat dari hasil penyidikan pihak Polres PUT, ke 14 pemuda ini melakukan tindakan keji dibawah pengaruh miras tradisional jenis Tuak.

Bahkan istri Ridwan Kamil Walikota Bandung, Atalia Praratya, yang biasa dipanggil Ridwan Kamil, Si Cantik, balik menantang para pendukung miras.

2016_5_5_0_17_25_646_PM_1

“Hingga kasus Yuyun menyeruak…….

Masih ada yang bilang bahwa akhlak, moral dan etika tidak penting ?

Masih ada yang bilang miras dan narkoba itu wajar ?

Sini berhadapan dengan saya !!

Jangan pilih pemimpin yang menganggap ini tidak penting..

Atalia kemudian menyambung postingannya,

Prihatin Kasus Yuyun 

Justru akhlak, moral dan etika itu yang paling penting..tanpa itu semua pendidikan setinggi apapun…nothing “

Beberapa akun menganggap jika kasus perkosaan yang terjadi, bukan diakibatkan oleh miras, dan semua akun tersebut menyerbu tulisan Fahira yang diposting melalui akunnya @fahira idris.

2016_5_5_0_49_2_821_PM_1Berikut akun-akun yang merasa tersinggung dengan tulisan Fahira yang mendukung agar miras segera dibuat peraturan yang lebih keras, karena menurutnya salah satu penyebab utama kejadian yang menimpa Yuyun adalah miras.

@aMrazing (Alezander Thian) ; ” Gurl (girl-red) is a lost cause ( penyebab gadis itu hilang – red)” Kelakuan Bejat Akibat Miras” Bejat mah bejat aja gak. usah pake excuse (alasan)

@RinjaniJB (R!en) ; ” Salah ! Saya tidak bela miras! Dlm kasus pemerkosaan wanita, pelakunya yg bejad “

@agussari (Agus Sari) ; ” Penyebab dari perkosaan adalah adanya pemerkosa. Bukan miras, bukan cara berpakaian, bukan karena sendirian memberi pulang “

Dan masih banyak lagi, yang kesemuanya tidak setuju dengan postingan milik Fahira yang dianggap menyalahkan miras hingga terjadinya pemerkosaan kepada Yuyun.

“Sebenarnya yang komentar hujatan kepada Uni (Fahira) terkait dengan persoalan miras hingga menyebabkan perkosaan, bisa dikatakan gagal paham,” ujar Ajeng Cute kepada pembawaberita.com

Maksud Ajeng, Fahira sedang membahas persoalan pelaku yang memperkosa dan membunuh Yuyun, bukan membahas kasus perkosaan secara menyeluruh yang pernah terjadi.

“Ini yang saya maksud gagal paham, komentar yang masuk justru pada lari ke kasus pemerkosaan yang lain,” ujar @AjengCute16 melalui pesan pribadi kepada pembawaberita.com

Ajeng meminta para komentar, untuk membaca berita yang dibuat, karena pihak Kepolisian sendiri memberikan pernyataan jika pelaku yang masih berumur belasan tahun ini, melakukan perbuatan keji mereka karena di bawah pengaruh miras.

“Uni memang sedang memperjuangkan ke DPR RI agar UU Minuman Keras bisa diperketat aturan ke masyarakat, khususnya masyarakat kecil,” ujar Ajeng.

Sementara Heikal Safar, Ketua dari “Heikal Center” mengingatkan jika miras merupakan salah satu sumber pembuat kejahatan lainnya.

Terlepas dari persoalan yang diributkan, Heikal pernah membaca sebuah kisah, terkait dengan kisah betapa jahatnya pengaruh miras kepada seseorang.

Kisah ini menceritakan Harut dan Marut memiliki versi lain dalam versi Yahudi, dikisahkan Harut dan Marut merupakan malaikat yang tengah diuji oleh Allah.

Saat itu, malaikat tak setuju dengan penugasan orang saleh sebagai khalifah di muka bumi, namun dalam perjalanan waktu Orang saleh berbeda dari manusia kebanyakan.

Mereka dapat menahan nafsu sehingga dapat mengemban amanah sebagai khalifah bumi. Namun malaikat berpendapat jikalau mereka diberikan nafsu, mereka akan dapat menahannya lebih baik dari manusia saleh.

Maka Allah memilih dua malaikat, dan diturunkanlah malaikat bernama Harut dan Marut untuk menguji apa yang dikatakan para malaikat.

Keduanya kemudian diberikan hawa nafsu dan diturunkan ke bumi. Saat baru tiba di bumi, keduanya melihat wanita cantik dan langsung terpesona.

Wanita tersebut menolak, namun seorang wanita, ibu dari si wanita cantik, mengijinkan niat keduanya dengan syarat harus melakukan salah satu dari tiga sayarat yang diajukan, menyembah berhala, membunuh seorang anak kecil atau meminum khamr alias minuman keras (miras).

Harut dan Marut pun berpikir, Menyembah berhala adalah perbuatan kufur, membunuh seorang anak kecil, merupakan dosa besar, dan meminum khamar hanyalah dosa kecil, dan akhirnya mereka memilih untuk meminum khamr.

Namun, setelah meminumnya mereka menjadi mabuk, dan akhirnya memperkosa si wanita, karena Setelah kehilangan akal akibat mabuk, keduanya kemudian membunuh si anak kecil karena takut akan ketahuan perbuatan mereka, akhirnya mereka tidak sadar dan menyembah berhala.

“Kisah ini hanya rekaan dari orang jaman dulu, terkait dengan kedatangan dua malaikat sebagaimana yang tertulis di Al-Quran, soal kedatangan dua malaikat yang turun ke bumi,” ujar Heikal, kepada pembawaberita.com

Namun terlepas dari itu, Heikal bermaksud mengingatkan jika cerita rekaan ini sudah ada sejak dahulu kala, “dan artinya sejak dulu yang namanya miras sudah menjadi bagian dari salah satu penyebab kejahatan.”

Terkait dengan kasus Yuyun, Heikal melihat bagaimana para pemuda yang masih dalam jiwa muda jiwa yang bisa dikatakan masih labil dan mudah memberontak, namun sayangnya pemberontakan dengan cara menghilangkan akal sehat mereka melalui miras, yang akhirnya menjadikan mereka liar yang berujung pada perbuatan keji.

Heikal sangat menyetujui jika DPR RI membuat UU yang pengatur secara ketat terkait dengan minuman keras, ” Apapun namanya, selama minuman itu mengandung alkohol maka termasuk minuman keras, dan dalam Islam haram,” ujar Heikal tegas.

Heikal mendukung langkah Fahira Idris yang begitu getol menyuarakan persoalan miras agar tidak mendapatkan tempat di Bumi Indonesia, “Gubernur Papua telah mengambil langkah yang sangat tepat soal pelarangan miras di wilayahnya, dan ini harus di ikuti oleh daerah provinsi lainnya, bukannya malah memaksa untuk melegalkan,” pungkas Heikal.

IMG_20160505_202622_1

Fahira bersama dengan rekannya di Komisi III DPD RI telah berkoordinasi dengan Menteri Pemberdayaan Wanita dan Perlindingan anak Yohana Yembise dan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

Yohana didampingi anggota DPD RI dari Bengkulu, Kamis (4/5) selain mengunjungi lokasi juga bertemu langsung dengan keluarga korban, dan besoknya, Jumat (5/5) Khofifah bersama Anggota Komisi III DPD RI lainnya juga akan turun langsung ke lokasi.

“Kami khususnya di Komite III @DPDRI akan KAWAL KASUS INI SAMPAI TUNTAS. Jadi bukan asal ngetweet…” tulis @fahiraidris yang menempelkan smiley senyum di akhir postingannya.

(Jall)

loading...