PB, Jakarta – Pernyataan Menkopolhukam, Luhut Binsar Pandajitan dan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, yang terkesan membela para penyebar PKI, yang sudah mulai berani tampil dengan memakai baju berlambang palu arit di depan umum.

Yang sangat disayangkan oleh Darwis Sibua, selaku salah satu tokoh muda Malut di Jakarta, keduanya adalah para petinggi negara, “apakah perlu disebut jika Zulkifli dan PAN dan juga lembaga MPR RI mendukung PKI ?” Ujar Darwis.

Sementara itu persoalan terbukanya keran kebebasan secara membabi buta oleh pemerintah terkait dengan PKI, melalui ucapan oleh Menteri dan Ketua MPR membuat para pendukung faham Komunis yang banyak di dukung oleh kelompok yang menamakan diri Jaringan Islam Liberal alias JIL, termasuk didalamnya para perilaku kelainan seks yang biasa disebut LGBT, semakin membuat mereka berani tampil.

Dalam momentum Hari Buku Nasional yang jatuh pada tanggal, 17 Mei setiap tahun, rupanya akan dimanfaatkan oleh penganut yang tidak mempercayai adanya Tuhan.

Salah satu cara yang akan mereka lakukan dengan menyuarakan untuk menghentikan pembakaran buku yang memuat tentang faham komunisme, baik oleh TNI, Polri dan ormas keagamaan, yang mereka anggap sebagai salah satu bentuk penindasan.

“Sebagai salah satu negara yang memiliki dasar ideologi yang paling utama mempercayai adanya Tuhan Yang maha Esa, maka sebaiknya mereka mau menerima,” ujar Heikal Safar, selaku pendiri dan juga Ketua Heikal Center.

Karena dengan tidak menerima, maka secara otomatis mereka harus berhadapan dengan pihak TNI dan Polri yang memang diwajibkan untuk menjunjung tinggi dasar negara yaitu Pancasila.

“Sementara ormas keagamaan khususnya Islam, mereka tidak mau lagi kebiadaban yang pernah dilakukan oleh PKI terjadi kembali, dimana para ulama, kiyai bahkan santri harus kehilangan nyawa karena di bunuh,” ujar Heikal yang menceritakan kisah ketika dirinya masih anak ingusan, dimana kakeknya selalu mengingatkan bagaimana para penganut faham komunis memperlakukan mereka dengan keji.

Jadi hematnya menurut Heikal, jika memang para penganut komunis ini sudah merasa sangat tidak cocok dengan ideologi Pancasila dan paham hidup beragama, sebaiknya jangan melakukan hal yang justru akan membuat masyarakat lain marah.

“Jika mereka tidak mau lagi mempercayai agama dan Tuhan, lakukan saja sesuai dengan keinginan mereka, tapi jangan pernah bertingkah dan berlaku semaunya, seakan orang yang mempercayai agama tidak ada,” ujar Heikal mengingatkan, TAP MPRS Nomor : XXV Tahun 1966 tentang pelarangan faham Komunis, Leninisme/Marxisme di Indonesia masih berlaku sampai saat ini,

(Jall)

loading...