PB, Jakarta – Sebagai salah satu Gubernur di Indonesia, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok rupanya lebih senang memperlihatkan dirinya sebagai “Si Putri Panggung”

Ahok ingin menjadikan dirinya sebagai satu-satunya yang pantas untuk mendapatkan sorotan lampu gemerlapnya pesta Pilkada DKI Jakarta, walaupun itu harus memaki, berkata kotor, memperlihatkan ketidak pedulian dirinya atas tangisan dan rintihan warga yang mengharapkan agar Ahok dengan segala kekuatan melalui TNI Polri untuk memusnahkan hasil jerih payah warga yang sudah mereka kumpulkan sedikit demi sedikit, demi memperjuangkan hidup dibagian Ibukota.

Sementara didalam jeritan, tangisan dan doa yang dipanjatkan oleh warga miskin, Pasar Ikan Luar Batang, Ahok tenggelam dalam hiruk pikuk tawa dan canda bersama Teman Ahok yang berpesta pora makan dan minum sepuasnya dengan alasan memperingati terkumpulnya KTP sesuai dengan aturan yang ditetapkan KPU DKI Jakarta.

“Kalau saja hari itu saya tahu, maka pesta pora yang dilaksanakan di bangunan milik Pemerintah Daerah, akan saya buat ultimatum, kepada Teman Ahok agar dihentikan,” ujar Yakub A. Arupalakka, Pelaksana Sementara Ketua Umum Partai Priboemi.

Yakub yang mengenang kembali bagaimana dirinya hanya bisa diam terpaku, melihat pergulatan antara pihak keamanan yang berusaha menyeret warga yang mati-matian bertahan di rumah mereka yang akan dirobohkan.

Bahkan Yakub menceritakan kembali, bagaimana dirinya harus bersembunyi karena malu kepada dirinya sendiri, bahkan Yakub tanpa malu menceritakan bagaimana dia berusaha mengatur kacamata hitam yang dipakai untuk menutupi matanya yang merah berkaca-kaca, namun akhirnya terlihat juga sebuah butiran air mata jatuh oleh sebagian rekan-rekannya dari Ormas Laskar Bugis Makassar, yang ikut mendampingi dirinya.

Yakub tercekat, tanpa mampu berkata dan hanya mampu berjanji jika ada sebuah kesempatan dirinya akan maju dan melakukan perlawanan terhadap Ahok dan segala kroninya.

Dan akhirnya tibalah saatnya ketika para warga Jakarta Utara, khususnya dari wilayah Luar Batang, menuju ke KPK dan melakukan demo agar Ahok segera ditahan oleh KPK.

Yakub ikut hadir, bahkan bukan hanya hadir, Yakub juga ikut melakukan orasi politik, usai melakukan orasi, rupanya sebuah speaker yang juga berfungsi sebagai salah satu tape yang bisa digunakan untuk melakukan orasi, kehabisan daya.

Yakub mencoba menerobos barikade pihak kepolisian, sambil menarik tape-speaker aktif tersebut untuk di charger kembali, sambil meminta ijin, rupanya pihak kepolisian lupa mengingat jika Yakub baru saja melakukan orasinya.

Dengan mudahnya Yakub lolos masuk ke areal dalam gedung KPK, setelah mencharger Yakub iseng menghiduokan mik, dan tanpa diduga emosi Yakub rupanya masih menggebu dan terbakar suasana demo di halaman luar gedung KPK.

Tanpa disadari Yakub dengan lantang menggunakan Mik, langsung berteriak, ” TangkapAhok…..penjarakan Ahok !!!” Bisa dibayangkan bagaimana kagetnya para petugas keamanan dari kepolisian khususnya Brimob, dan termasuk wartawan yang kebetulan sedang berdekatan dengan posisi Yakub.

Tanpa banyak tanya Yakub langsung diserbu, dan mulai dilumpuhkan, rupanya Yakub tidak berdiam diri, bahkan berusaha untuk melepaskan diri, dengan sekuat tenaga, walaupun dirinya sendirian, dengan tubuh berukuran kecil.

Melihat salah seorang rekan mereka menjadi bulan-bulanan kepolisian, tiba-tiba massa dari arah luar mulai melakuka perlawanan dengan melempari berbagai botol dan apa saja yang sedang dipegang sambil marah dan memaki pihak keamanan.

Rupanya Yakub yang menggunakan baju resmi milik Partai Priboemi, memang cukup dikenal dikalangan perwira aparat keamanan dari bagian lapangan, dan ternyata Yakub juga pernah menjadi koordinator perlawanan Prabowo sewaktu sidang di Majelis Kehormatan terkait dengan Pilpres, dan akhirnya Yakub dilepaskan, namu  sebagian tubuhnya sempat mengalami luka memar.

“Saya merasa puas (berteriak di dalam gedung KPK), kesakitan waktu itu, bahkan tidak terasa sama sekali, walaupun harus menghadapi puluhan aparat kepolisian,” ujar Yakub tertawa mengenang kejadian, pada tanggal 3 mei 2016 lalu.

Akhirnya aksi demo tersebut mendapat respon dari KPK dan dilakukan pertemuan antara perwakilan demo dengan pihak KPK dan untuk menyampaikan aspirasi mereka terkait dengan keinginan agarAhok segera ditahan oleh KPK, dan Mendagri Tjahjo Kumolo mencabut status Gubernur Ahok.

Yakub sendiri saat ini, mulai mempersiapkan diri untuk kembali mendatangi KPK terkait dengan kinerja KPK yang dianggap lambat dan selalu memiliki alasan yang terkesan dibuat untuk melindungi Ahok.

“KPK jangan membuat warga yang sudah bosan dengan tingkah laku Ahok, menjadikan KPK sebagai sasaran tembak (demo), masa kasus Sumber Waras alasan “Niat Jahat”, Kasus Reklamasi adalagi “Payung Hukum”, KPK jangan main-main,” ujar Yakub jengkel dengan sikap KPK yang dianggapnya malah sedang melindungi Ahok.

Menurut Yakub Ahok tidak mungkin diperiksa jika tidak adanya keterangan dari tersangka sebelumnya soal keterlibatan Ahok secara langsung dalam Reklamasi yang melanggar aturan.

“Ini baru terjadi, Kepala Daerah, diperiksa KPK dua kali dan dalam dua kasus yang berbeda, hanya dalam masa jabatan 1,6 tahun,” ujar Yakub merasa jika KPK menyembunyikan sesuatu.

Dan Yakub merasa sudah waktunya untuk kembali ke KPK untuk mempertanyakan apa yang dimaksud KPK dengan belum adanya payung hukum, sementara dokumen tersebut adalah gratifikasi, bahkan Ahok sendiri mengakui menerima uang dari Podomoro.

“Tapi KPK seperti kambing congek, walaupun Ahok sendiri mengakui menerima uang dari Podomor,” ketus Yakub.

(Jall)

loading...