PB, Jakarta – Ada yang menarik ketika dalam gugatan perdata sidang lapangan antara Penggugat PT. Almaron Perkasa lawan tergugat Ahli Waris Almarhum Haji Saat Bachtiar, Ali Said, Agus dan Nurul Azizah.

Sidang yang dilangsungkan di Tempat Kejadian Perkara ini, turut melibatkan pihat RW dan Kelurahan, yang dihadirkan sebagai saksi dari pihat tergugat.

Dalam keterangannya staf kelurahan Siswanto yang hadir, mengatakan jika dalam perkara laporan pihak PT. Almaron kepihak kepolisian Polres Jaksel, sampai menurunkan pengukur dari Badan Pertanahan Nasional Jakarta Selatan, dan menyatakan jika SHM milik ahli waris yang sidah di validasi sebanyak dua kali, 2004 dan 2015 lalu, dianggap kesalahan produk.

Sementara dari hasil ukur BPN Jaksel memenangkan pihak PT. Almaron Perkasa, sampai saat ini hasil ukur ulang tersebut, belum pernah diterima oleh pihak Kelurahan, bahkan kasus awal di Polres Jaksel, tidak jelas ujungnya, dikarenakan bukti laporan PT. Almaron Perkasa tidak ada.

Akhirnya Hakim yang meminta kepada pengacara PT. Almaron Perkasa selaku pengelola Super Blok Kemang Village, untuk menunjukkan titik permasalahan gugatan tidak bisa berbicara banyak.

Bahkan salah satu pengacara PT. AP mencoba meminta bantuan dari salah satu pegawai Kemang Village untuk menunjukkan lokasi, sambil memanggil nama Yopi selaku penggugat yang tercatat.

Rupanya orang yang dipanggil dengan nama Yopi, dikenal oleh warga dan ahli waris bernama Erwin, “siapa dia, itu bukan Yopi, dia tidak tercatat dalam gugatan,” ujar Agus alias Agung sambil menunjuk ke Erwin, sebelum Erwin melanjutkan keterangannya kepada Hakim.

Yopi Rusli adalah salah satu nama selain Susanto yang terdaftar didalam gugatan yang dimasukkan oleh PT. Almaron Perkasa pada bulan Oktober 2015 lalu, sementara nama Erwin tidak tercantum sama sekali.

Akhirnya Hakim mengusir pria yang sebagian rambutnya telah habis dibagian depan kepalanya, “saya tidak menerima keterangan dari orang yang bukan tercatat di dalam perkara,” ujar Hakim Ketua. Erwin akhirnya mundur sambil menunduk malu.

Sementara ibu yang menjadi pengacara PT. AP ketika diminta oleh Hakim untuk menunjuk lokasi, sambil menanyakan berulang kali, dimana lokasi yang dipasang plang oleh para tergugat.

Rupanya si ibu pengacara ini tidak mengetahui letak lokasinya melalui gambar yang diperlihatkan oleh Hakim Ketua, dan menunjuk sesekali di luar kotak dan sesekali di luar kotak.

Akhirnya Hakim tidak melanjutkan pertanyaannya dan membiarkan para tergugat menunjukkan lokasi tempat berdirinya plang, yang ternyata berada di wilayah tanah milik mereka.

Hakim Ketua yang sempat ditanyakan usai digelarnya sidang, terkait dengan bukti yang tidak cukup dan tidak adanya saksi dari pihak penggugat, mengatakan jika hal itu menjadi catatan mereka dalam memutuskan perkara nantinya.

Sementara itu, rupanya panitera pengadilan, sedikit resah dengan keberadaan wartawan yang tidak disangkanya akan hadir dalam sidang lapangan, dengan cara sesekali menarik tangan Hakim dengan paksaan yang sedang diwawancarai, agar cepat berlalu.

(Jall)

loading...