PB, Surabaya – Para pengikut dan pendukung faham komunis yang selalu mengatasnamakan liberal dan demokrasi yang dianggap harus dilakukan sebebasnya, masih saja berusaha untuk mencari tempat untuk menunjukkan eksistensinya.

Mereka menganggap jika saat ini para pemuda dan remaja seharusnya lebih mengetahui apa yang dimaksud liberal, demokrasi dan juga faham komunis hanya bagian dari sebuah faham yang juga harus dipahami oleh kaum muda.

Para kaum yang selalu menjelekkan, bahkan berusaha untuk membengkokkan sejarah terkait dengan sejarah paling silam dalam pemerintahan Indonesia pada saat pembunuhan para jenderal atau yang biasa disebut dengan Gerakan 30 September alias G30S/PKI.

Mereka membuat sebuah wacana jika gerakan itu bukan didalangi oleh PKI namun oleh mantan Presiden Soeharto untuk menuju kursi kejayaan sebagai satu-satunya Jenderal tertinggi saat itu.

“Banyaknya kejadian yang terjadi di daerah, sejak era Muso tahun 1948 di Madiun dan sekitarnya, ketika para anggota komunis ini membantai ulama, kiyai, santri, perangkat desa bahkan TNI dan Polisi juga menjadi sasaran amukan mereka, jika dianggap hanya sebagai penghalang,” ujar Heikal Safar, selaku Ketua Umum dan Pembina komunitas Heikal Safar.

Dan ini menandakan jika sebenarnya PKI dalam dua kejadian yang besar, menjadikan trauma besar bagi masyarakat Indonesia, khususnya pihak TNI Polisi dan Umat Islam yang kala itu dianggap sebagai salah satu agama yang paling keras menentang keberadaan akan faham yang tidak mengenal Tuhan dan Agama ini.

“Saya secara pribadi dan atas nama Heikal Center mendukung penuh sikap para anggota TNI dan Polisi yang membubarkan acara yang dilakukan oleh pendukung Komunis ini di Surabaya,” ujar Heikal.

Acara diskusi dan pemutaran Film “Pulau Buru Tanah Air Beta” yang dilakukan di sebuah warung makan “Mbah Cokro” langsung dibubarkan oleh pihak keamanan baik dari TNI maupun kepolisian, dan ini berdasarkan informasi dari Ormas.

“Para pemuda yang mencari tahu apa itu paham Komunis dan segala tindakan mereka, sebaiknya membuka diskusi bebas dan terbuka, dengan mengundang pihak TNI Polri serta ulama dan kiyai, kenapa paham ini sangat tidak diminati oleh TNI Polri dan Umat Islam khususnya, berkembang,” ujar Heikal.

Bahkan Heikal bersedia untuk memberikan tempat dan lokasi jika mereka ingin berdebat secara terbuka dan akan diusahakan Panglima TNI, Kemenhan dan Kapolri serta alim ulama, untuk memberikan statemen mereka terkait dengan apa itu Paham Komunis dan kenapa harus dilarang.

Saat ini memang TAP MPRS Nomor XXV TAHUN 1966 Tentang pelarangan Paham Komunis dan Leninisme/Marxisme masih berlaku, dikarenakan kesadaran betapa berbahayanya paham yang selalu menganggap orang diluar mereka sebagai musuh dan bukan sahabat, yang wajib di basmi.

Selama ini Heikal Center telah melakukan berbagai pengamatan dan ternyata terungkap jika pendukung komunis saat ini sedang bersembunyi di balik “baju” yang bernama Liberal dan Demokrasi.

“Paham ini membuat generasi kita mudah ditipu, saat ini mereka mengatasnamakan liberal dan demokrasi, namun jika mereka berkuasa justru kebebasan dan demokrasi itulah musuh utama mereka,” ujar Heikal.

Contoh yang paling nyata ujar Heikal Korea Utara dan China yang berhaluan Komunis dan keduanya yang paling banyak mengekang dan memberangus pejuang yang memperjuangkan demokrasi di kedua negara tersebut. Bahkan di China umat Islam sangat dikekang, dan tidak bebas menjalankan ibadahnya.

(Jall)

loading...