PB Jakarta ; Program pembangunan perkeretaapian di Indonesia direncanakan akan selesai pada 2019, meski menghadapi masalah pembebasan lahan dan pembiayaan.

Seperti yang ditulis di Channel NewsAsia, Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Prasetyo Budi Cahyono mengatakan bahwa kemungkinan penundaan pasti ada tapi ia tetap yakin proyek ini dapat memenuhi target pelaksanaannya.

Indonesia berencana membangun lebih dari 3,200km dari rel kereta api dalam lima tahun, namun kendala dalam pembebasan lahan menjadi polemik bagi pemerintah, karena para pemilik tanah enggan untuk menyerahkan milik mereka. Namun Prasetyo yang ditunjuk dalam menggarap tersebut mengatakan pemerintah tidak memiliki pilihan lain selain mendapatkan tanah tersebut.

“Tentu saja, kita harus berkoordinasi dengan kabupaten, dan menjelaskan kepada mereka,” katanya. “Ada beberapa kabupaten yang proaktif, tapi masalahnya adalah ada orang-orang yang tidak proaktif.

“Mereka mengatakan, silakan datang dan mengembangkan, tetapi mereka tidak proaktif berpartisipasi dalam pelaksanaan pembangunan ini.”

Para ahli transportasi memperingatkan bahwa masalah pembebasan lahan bisa menggagalkan proyek pembangunan perkerataapian karena adanya ketidakpastian.

“Jika sudah dilakukan program sosialisasi yang baik, dan pemerintah setempat dan para pemilik lahan berpartisipasi, kita dapat memperkirakan berapa banyak waktu yang diperlukan dalam pembebasan lahan. namun ketika mengimplementasikannya,” kata Ipoeng Poernomo, Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia

Prasetyo menambahkan Proyek kereta api difokuskan untuk daerah di luar Jawa, dan trayek pertama akan dibangun di Garis Penghubung Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan di wilayah paling timur negara Papua, untuk Papua diharapkan akan dilakukan pada bulan Januari tahun depan.

Proyek pembangunan kereta api di Indonesia diperkirakan akan menelan biaya lebih dari US $ 17 miliar. Dalam hal ini pemerintah tidak mampu membiayai sendiri. Oleh karenanya Pemerintah telah mendekati Jepang dan China untuk membantu membiayai pembangunan tersebut.

Beijing telah menawarkan untuk meminjamkan lebih dari US $ 5 miliar untuk kereta api Trans Sumatera dan Sulawesi Trans. Sedangkan China akan menelaah perkembangan perkeretaapiaan selang lima tahun terakhir sebelum mereka melakukan peninjauan untuk pembiayaan proyek tersebut.

Membangun perkeretaapian sebagai bentuk ttansportasi massal merupakan bagian dari visi Presiden Joko Widodo untuk pembangunan infrastruktur di dalam negeri. Ini akan meningkatkan konektivitas, dan mengubah cara orang melakukan perjalanan di Nusantara.

loading...