PB, Jakarta – Rupanya kehebatan nama kelompok Jempol Rakyat (JR) cukup membuat pasukan Cebonger, pasukan pendukung Ahok dan Jokowi, sedikit ketakutan, bahkan JR harus menerima kenyataan dengan berbagai fitnahan yang ditempelkan kepada JR.

Jika JR selama ini semakin lama semakin banyak mendapatkan dukungan, akibat konsistensi menolak keberadaan Jokowi sebagai Presiden, karena kebijakannya dianggap terlalu mementingkan sekelompok pengusaha dan kekuasaan, belum lagi soal janji yang disampaikan ketika masih Capres, namun sampai saat ini lebih banyak yang tidak terbukti, bahkan bisa dikatakan bertolak belakang.

Selain Jokowi, Jempol Rakyat juga menolak keras Ahok sebagai Gubernur DKI, yang dianggap setali tiga uang dengan Jokowi, apalagi banyak kebijakan Ahok yang justru lebih menyusahkan masyarakat pribumi di Jakarta, seperti penggusuran yang dianggap sangat tidak manusiawi.

Kasus yang membelit Ahok dalam pembelian tanah milik Yayasan Sumber Waras yang merugikan negara, lalu kasus pemberian Ijin Reklamasi yang sangat sarat dengan penyalahgunaan kekuasaan yang mendahulukan kepentingan para pengusaha keturunan, lalu menggunakan jabatannya dengan alasan Dekrasi lalu meminta uang ke PT. Agung Podomor Land, yang tertulis dalam bukti pengeluaran dipakai untuk membayar Satpol PP, TNI dan Polri untuk penggusuran di wilayah Kalijodo.

Akibatnya sebagian wilayah yang rencananya akan digusur oleh Ahok demi kepentingan akses masuk ke salah satu pulau hasil reklamasi oleh PT. APL menjadi sebuah kemarahan yang berputar di masyarakat khususnya di wilayah Luar Batang.

Bentuk kemarahan itu disalurkan dalam demo, setelah demo yang dilakukan seminggu lalu di KPK dan DPRD DKI Jakarta, dan berhasil memaksa pihak DPRD untuk menandatangani surat perjanjian agar segera melakukan sidang pemakzulan terhadap Ahok, dan pada batas perjanjian tersebut pada hari Senin tanggal 30 mei 2016, akan dilakukan demo sekaligus meminta hasil surat perjanjian tersebut. Namun rencana demo akhirnya ditunda dan akan dilakukan pada tanggal 1 Juni 2016 (selasa besok).

Dan disinilah fitnah tersebut muncul, ketika salah satu pemilik akun atas nama @ninianteh yang selama ini getol menyerukan agar Ahok segera ditangkap, melakukan permohonan pemberian dana untuk membiayai demo yang akan dilakukan, melalui pesan khusus kepada akun lainnya yang dianggap juga sejalan terkait dengan keresahan terhadap kepemimpinan Ahok.

Namun hal itu justru menjadi sebuah fitnah yang berkembang, jika @ninianteh dianggap sebagai salah satu pentolan dari Jempol Rakyat, dan permintaan dana tersebut adalah juga keinginan dari kelompok Jempol Rakyat.

“Jempol Rakyat terbentuk bukan atas dasar mencari uang, apalagi meminta sumbangan, jadi mereka yang selama ini mengatasnamakan JR atau menyebut JR meminta uang untuk sebuah kegiatan itu salah besar,” ujar akun @AjengCute16.

Menurut Ajeng jika ada orang atau pemilik akun selama ini dikenal sebagai JR karena postingannya bukan berarti apa yang dilakukannya lalu atas kesepakatan seluruh JR, karena JR sendiri tidak memiliki pemimpin ataupun ketua Kelompok.

“Yang ada hanya menghormati salah satu akun yang dianggap selama ini sebagai bagian dari terbentuknya nama JR, jadi salah jika sekelompok orang menganggap JR adalah kelompok milik orang tertentu,” ujarnya sambil mengatakan akun @Ongen_Corleone yang dihormati, dan pemiliknya adalah Yulianus Paonganan atau biasa disebut Ongen Drone.

Ajeng menyayangkan jika saat ini mulai bermunculan kelompok yang mengklaim atas nama JR lalu mulai melakukan tindakan dengan meminta dana hanya karena untuk melakukan tindakan yang tidak terpuji, menurutnya, sebaiknya jika memang demikian pakailah atas nama pribadi sendiri dan disampaikan secara luas jika perbuatan mereka, terkait dengan permintaan dana, atas inisiatif sendiri.

JR selama ini memang lebih dikenal di sosial media khususnya Twitter, dan Ajeng memastikan penggunaan nama Jempol Rakyat tidak dipakai untuk kegiatan diluar.

“Nama Jempol Rakyat dipakai hanya untuk kegiatan di sosial media, kalau untuk Demo rasanya tidak ada, kecuali jika memang ada personil yang bersimpati dan ikut dalam demo silahkan, namun segala perbuatannya bukan mengatasnamakan Jempol Rakyat,” ujar Ajeng kepada Pembawa Berita.

Maksud Ajeng karena seluruh pengikut JR lainnya tidak mengakui jika ada anggota lainnya ikut apalagi berbuat yang mengakibatkan nama Jempol Rakyat rusak, apalagi adanya permintaan dana untuk sebuah kegiatan.

Ajeng tidak menampik jika memang ada beberapa akun yang terhimpun di salah satu aplikasi percakapan melalui android dan menamakan “Percakapan Jempol Rakyat” dan mereka bersama untuk membahas apapun yang terkait dengan topik dan isu di sosial media lainnya, namun keberadaan anggotanya sebatas saling mengenal melalui dunia maya dan belum bertemu secara langsung, apalagi memiliki seorang ketua.

Namun Ajeng bersikeras jika sebenarnya persoalan pengumpulan donasi untuk sebuah kegiatan memang tidak dilarang, hanya saja selalu ada yang memanfaatkan untuk kepentingan, khususnya politik.

“Pastilah ada bang, karena selalu saja pihak yang berseberangan dengan jempol rakyat memanfaatkan situasi tersebut, dan akibatnya fitnah yang terjadi, agar kami di JR saling tuding dan menyalahkan,” ujar Ajeng.

(Jall)

loading...