PB PURWOREJO –  Nasib malang dialami Latifah (37) warga Kliwonan, Kutoarjo.  Betapa tidak, hanya dinikah siri oleh S (45), oknum PNS di suatu instansi di Kecamatan Butuh, tapi setelah punya anak, tidak diakui bahkan ditinggal pergi.

Ditemui di rumahnya, Latifah menceritakan kejadian itu. Janda anak satu itu bertemu dengan Suryono sekitar tahun 2005. Pada 2009 Latifah dinikah siri oleh S “S sudah punya istri dan PNS jadi saya hanya dinikah siri,” kata Latifah.

Setelah menikah, S tinggal di Kliwonan. Sayangnya kemesraan Latifah dan S tidak bertahan lama.

“S suka mabuk-mabukan, cemburuan dan ringan tangan. Bahkan saya pernah beberapa kali dipukuli,” aku Latifah.

Tidak tahan dengan kelakuan S, pada bulan Maret 2013 Latifah minta pisah ranjang. S kemudian mengontrak rumah di daerah Bendung Selis, Kutoarjo.

Entah karena masih saling cinta atau saling membutuhkan, pada Juni 2015 keduanya bersatu lagi. Hingga pada Desember 2015 Latifah mengandung. Sampai akhirnya pada April 2016 Latifah melahirkan bayi perempuan yang diberi nama Zulfah Putri Malikta.

Ternyata S tidak mau mengakui bayi itu sebagai anaknya. Alasannya, kehamilan Latifah setelah beberapa bulan berpisah dengannya.

Atas penolakan itu Latifah berusaha bicara baik-baik. Latifah tidak menuntut banyak, dia hanya ingin lelaki itu mengakui anaknya dan minta bantuan uang perawatan selama empat bulan. Sebab semenjak melahirkan Latifah tidak bisa berjualan lagi.

“Saya hanya minta itu saja, nanti kalau saya sudah buka warung lagi saya besarkan sendiri anak saya,” tutur Latifah.

Latifah melaporkan kejadian itu ke kelurahan dan sidang pun digelar. Dalam sidang, S tetap tidak mau mengakui anak yang dilahirkan istri sirinya.  S malah menantang pembuktian lewat tes DNA.

“Atas dukungan tetangga, pemerintah kelurahan dan saudara saya kemudian melakukan tes DNA di Rumah Sakit Sardjito, Yogyakarta,” ucap Latifah.

Namun Latifah harus kecewa lantaran pihak rumah sakit menolak lakukan tes DNA tanpa ada surat keterangan laporan dari Polsek Kutoarjo.

Latifah pun pulang dengan tangan hampa. Berikutnya Latifah mendatangi Polsek Kutoarjo untuk melaporkan peristiwa yang dialaminya.

Lagi-lagi Latifah harus menelan kecewa karena Polsek Kutoarjo tidak mau memproses dengan alasan kasus itu atas dasar suka sama suka. “Kata Polisi yang berhak melaporkan istri sah Suryono,” kata Latifah.

Karena itu, Latifah kemudian menempuh cara damai dengan mendatangi pimpinan S selaku atasan. Tujuannya selain mengadu juga untuk memohon agar ada tindakan dari instansinya.

Tapi untuk kesekian kalinya Latifah harus memendam kecewa, sebab atasan S tidak berani menindak karena tidak ada laporan atau pengaduan tertulis.

Dengan sederet kekecewaan itu kini Latifah mengaku pasrah dan bertekad akan membesarkan anaknya meski tidak diakui ayahnya. “Sebenarnya banyak yang mau mengadopsi tapi saya tidak mau,” pungkas Latifah. (war)

loading...