PB, Jakarta – Berita tentang Ahok yang mengklaim secara sepihak jika dirinya dekat dengan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, rupanya mendapat respon dari para petinggi PDIP.

Salah satunya adalah Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Ahmad Basarah, yang mengatakan jika keinginan Ahok untuk memakai PDIP sebagai salah satu pendukungnya dalam pilkada DKI nanti harus mengikuti aturan partai, bukan seenaknya saja, dengan cara mengklaim.

“Jadi bukan kami yang mengikuti maunya Ahok, tapi Ahok yang harus mengikuti tata krama (kami) di PDIP,” ujar Ahmad.

Sementara Ahok sendiri masih menyatakan jika dirinya justru tetap akan menggunakan jalur independen, dengan mengikuti kemauan teman Ahok yang mengklaim sudah mengumpulkan hampir sejuta KTP.

Bahkan Ahok juga mengklaim jika PDIP yang sebenarnya mau mendukung dirinya, dan Ahok mempersilahkan PDIP berdiri bersama-sama dengan partai lainnya, seperti Hanura dan Nasdem, juga Golkar.

Klaim secara sepihak oleh Ahok ini ditengarai karena ketakutannya akan elektabilitas saingannya yang semakin kuat, Yusril Ihza Mahendra, yang secara pelan namun pasti mulai melewati elektabilitas Ahok.

Bahkan pengakuan dukungan kepada Yusril justru bermunculan diberbagai wilayah di Jakarta secara gotong royong oleh warga, karena Yusril dianggap sebagai orang yang bijkasana dalam menyelesaikan masalah di masyarakat.

“Ahok jangan belagu pake bilang teman dekat mega, ngaku aja kalau takut lihat Ibu Mega dekat dengan Bang Yusril, dan lagi Bang Yusril sudah mulai disukai warga Jakarta,” ujar Lukman warga Tanah Abang Jakarta Pusat, dan juga Ketua Umum Laskar Bugis Makassar.

Dan Lukman yakin jika Megawati harus memilih diantara calon lainnya, pasti pilihannya akan jatuh ke Yusril, karena elektabilitas Yusril sendiri semakin naik tajam, dan mulai meninggalkan Ahok.

Bahkan Lukman justru melihat jika selama ini Ahok tidak punya malu, dengan memaksakan pernyataan jika dirinya dekat dengan Megawati, “Ahok sudah ketakutan karena warga Jakarta melihat dan menyaksikan sendiri Yusril dekat dengan PDIP dan Megawati,” ujar Lukman.

Beda dengan Ahok, ketika Lukman mengingatkan kembali kejadian ketika digelarnya acara Buku tentang kisah Megawati, Ahok yang datang tiba-tiba, justru membuat Megawati heran, bahkan oleh Megawati Ahok selama ini dianggap banci.

Dalam acara yang digelar dengan tajuk “Megawati Dalam Catatan Wartawan, Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat” di Gedung Arsip Nasional, Jakarta, pada hari Rabu (23/3/2016) lalu, Megawati menyindir Ahok langsung.

“Pak Ahok itu datang, saya heran juga dia datang,” ujar Megawati dari atas panggung, yang kaget nelihat Ahok datang, bahkan Megawati melanjutkan dengan sindirian, Ahok harusnya bersikap jantan.

Berawal ketika lambang PDIP, Banteng yang dipasangi warna putih dibagian moncong dan dipasangi anting dan menurut Megawati sudah menyerempet ke LGBT, dan ini juga di serukan kepada Ahok.

“Jadi saya ke Pak Ahok ya begitu. Yang jantan Dong!” Teriak Megawati tegas yang disambut tepuk tangan para tamu undangan dan pendukung PDIP dan Megawati.

Menurut Bastian P. Simanjuntak, Presiden Gerakan Pribumi Indonesia (Geprindo), sudah jelas jika sebenarnya Ahok sama sekali tidak di inginkan oleh Megawati dan PDIP, namun Bastian memaklumi soal klaim oleh Ahok.

“Dia (Ahok) itu kan ngomong dulu baru mikir, jadi omongannya asal keluar dari mulut, hari ini bilang A, lihat saja besok pasti berubah B,” ujar Bastian yang menganggap jika omongan Ahok itu dikeluarin dulu baru dipikirin.

Dan Bastian sudah akan menduga jika nantinya pasti dia tidak akan merasa salah, walaupun omongan awal beda dengan omongan akhir, “pasti ada yang jadi kambing hitamnya,” ujar Bastian sambil tertawa.

Sementara dalam acara haul Taufik Kiemas kemarin, Ahok yang keluar lebih lama dari kediaman, ditengarai karena berusaha untuk mendapatkan dukungan dari Megawati, namun dipastikan jika hal itu gagal, karena Ahok yang biasanya sesumbar jika berbicara, namun sekeluarnya, hanya mengatakan kepada wartawan jika dia kekenyangan.

(Jall)

loading...