PB Jakarta – Sebagai salah satu Universitas yang masih eksis sampai saat ini, Universitas Gunadarma selalu berusaha untuk tetap bisa melakukan yang terbaik buat masyarakat, terutama masyarakat sekitar Kampus Gunadarma yang tersebar di 13 titik di Jakarta.

Usia Gunadarma sudah memasuki 35 tahun, masa para “Pemuda Matang” yang siap menghadapi apapun yang sedang terjadi. Demikian pula dengan pihak Rektorat Universitas Gunadarma, dan hal itu terungkap ketika berbincang dengan pembawaberita.com di salah satu restoran di bilangan Senayan.

Rektor Universitas Gunadarma, Profesor Dr, E.S. Margianti SE, MM mengatakan saat ini Gunadarma sendiri tidak berdiam diri seperti yang disangka oleh masyarakat terkait dengan persoalan bangsa, hanya saja sebagai Universitas, pihak Gunadarma mendahulukan persoalan khususnya untuk kesejahteraan.

“Saat ini kami sedang mengembangkan kerjasama ekonomi dengan beberapa desa di daerah,” ujar Wakil Rektor Unidarma, Profesor Didin Mukodim, mewakili Rektor, Ibu Margianti.

Bahkan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat, agar bisa ikut menikmati laju ekonomi di sekitar Kampus Gunadarma, pihak rektorat sama sekali tidak mengijinkan untuk dibangun kantin di dalam kampus untuk tujuan komersil.

“Kantin yang ada dalam kampus, hanya untuk pengajar saja, dan itupun tidak dipungut biaya,” ujar salah satu petinggi Universitas, yang juga bersama Didin dan tiga rekan lainnya.

“Kami mempersilahkan masyarakat yang ingin membuat warung makan ataupun kebutuhan kampus di sekitar pinggir kampus kami persilahkan,” ujar Didin, sambil mempersilahkan pembawaberita berkunjung di sekitar kampus di daerah Kalimalang.

Selain para ke-enam petinggi Universitas Gunadarma, juga hadir Ketua Alumni Universitas Gunadarma, Tundra Meliala, yang selama ini selain dekat dengan para aktivis dan dunia jurnalis, juga sering melakukan kegiatan sosial perkotaan, terutama untuk pendidikan luar sekolah.

Tundra Meliala mengatakan untuk membangun ekonomi kerakyatan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun bagi Tundra hal itu adalah sebuah tantangan sebagai anak bangsa, untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan, terutama ekonomi warga yang jauh dari perkotaan, namun bisa menghasilkan dan memenuhi kebutuhan penduduk perkotaan.

“Mungkin sudah saatnya kita mulai memikirkan dan mencari jalan keluar dari himpitan ekonomi yang selalu tidak stabil,” ujar Tundra yang juga salah satu lulusan Sekolah Lemhannas angkatan 51.

Menurut Tundra memang sering terjadi persoalan yang tidak mudah untuk dipecahkan, antara warga setempat dengan warga dari luar, namun Tundra menyetujui jika cara pemecahannya dengan membuat aturan kepada para penduduk dari luar wilayah tersebut yang ingin membuat suatu usaha, harus bisa mempekerjakan warga setempat, agar tidak terjadi kecemburuan sosial.

“Beberapa pengusaha dari daerah lain, ketika masuk ke wilayah lainnya untuk menanamkan modal dalam bentuk usaha, terkadang membawa pekerja dari daerah asal mereka, ini salah, seharusnya yang bekerja menjadi pegawai adalah penduduk setempat,” ujar Tundra yang juga dikenal sebagai salah satu pemerhati sosial perkotaan.

Maksud Tundra jika ada seorang pemodal berasal dari Sumatera yang ingin mencoba peruntungan di Jawa atau di Sulawesi harus bisa memberdayakan tenaga dari wilayah yang dimasukinya, begitun sebaliknya, agar persoalan kecemburuan sosial bisa teratasi.

(Jall)

loading...