PB, Jakarta – Profesor Dr. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo namanya, warga negara Indonesia ini sedang menjadi rebutan negara-negara besar, yang memiliki badan Antariksa Dunia, seperti NASA dari Amerika Serikat, JAXA milik Jepang, ESA asal Eropa dan KARI dari Korea Selatan.

Selain Badan Antariksa beberapa negara, diperkirakan jika saat ini Josaphat yang sedang mengajar di Universitas Chiba, Jepang, sebagai Guru Besar Tekhnologi Penginderaan Jauh, juga sedang dibujuk untuk mau bekerjasama dengan beberapa kesatuan militer terkenal di dunia.

Melalui media komunikasi digital, Josaphat melakukan wawancara, terkait dengan dipilihnya alat yang berhasil diciptakannya untuk dipasang di Satelit Milik Indonesia yang berbobot 150 kilogram, Lapan A-5 yang sedang dikerjakan di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat.

Jika selama ini Lapan seri A harus puas mengusung pencitra optis buatan luar yang memiliki berbagai kelemahan. Namun tidak dengan seri A5 yang akan diluncurkan pada 2021.

Peluncuran ini diperkirakan akan mengguncang dunia. Dikarenakan “jeroan” CP-SAR yang akan dipasang di satelit buatan 100 persen Anak Bangsa ini, sengaja tak dibuka penuh kepada dunia.

Ketertarikan negara-negara lainnya kepada alat ciptaan Josaphat yang sudah dipatenkan atas namanya ini, dikarenakan alat terbaru di bidang Synthetic Appature Radar (SAR), mampu menembus awan dan gelapnya malam. Jika selama ini teknologi SAR yang dipakai oleh pihak badan antariksa dunia lainnya, harus menggunakan satelit seberat 1.000 kg, maka ciptaan Josaphat hanya memerlukan sepersepuluhnya. Bahkan obyek yang bisa di lihat oleh alat ini meliputi obyek-obyek yang letaknya sangat jauh dari Planet Bumi.

Radar micro ciptaan Josaphat yang terpasang pada satelit Lapan A-5 ini, dinamakan Circularly Polarized – Synthetic Aperture Radar atau CP-SAR. Kepada Adrianus Darmawan dari Media Angkasa, Josaphat ceritakan jenis SAR buatannya.

“Yang selama ini digunakan dunia adalah jenis linear polarized. Nah, berdasar prinsip microwave, saya berhasil mengembangkan yang circular. Saya kembangkan sejak 2010, dan kini saatnya saya pasang di satelit mikro buatan Indonesia, Lapan A-5,” ungkap Josaphat yang juga dari keluarga militer TNI AU.

CP-SAR menurutnya bisa diberdayakan jadi pelacak pesawat dan kapal perang siluman (stealth) dan radar AESA. Dengan begitu Lapan A5 pun akan jadi satelit pertama di dunia pengusung perangkat intai berteknologi baru.

Keputusannya memilih satelit Lapan didorong oleh kecintaannya terhadap Indonesia. Pihak TNI AU sebenarnya pernah memintanya untuk diterapkan pada pesawat intai, namun CP-SAR lebih cocok dipasang di satelit mikro. Lalu untuk mengamati wilayah seluas Indonesia, kira-kira dibutuhkan berapa satelit?

“Kalau orbit satelitnya polar, butuh lima. Tapi kalau dari jenis equatorial, cukup dua. Begitupun saya sudah mencobanya di pesawat tanpa awak buatan Josaphat Laboratory Experimental UAV di Universitas Chiba, Jepang, dan itu berhasil,” tutur Alumnus SMAN 1 Surakarta, Jawa Tengah yang pernah bekerja di BPPT, dengan penuh semangat.

Tentang pesawat tanpa awak itu sendiri, ia punya cerita khusus. Sang UAV sengaja dicat warna jingga lantaran kekagumannya yang luar biasa terhadap korps baret jingga alias Korpaskhasau.

“Itu karena saya mengenyam pendidikan dari gaji ayah saya yang pelatih Kopasgat (kini Korpaskhas TNI AU). Dia adalah Lettu Michael Suman Juswaljati atau sering dipanggil Bimo Kunting,” ujar Josaphat yang sampai saat ini masih dibujuk oleh badan antariksa dari negara lain.

Ketika muda, Josaphat rupanya pernah bercita-cita jadi penerbang AURI, namun tidak diijinkan oleh ibunya. Sejak itu ia pun bernazar kepada orangtuanya, bahwa kelak dirinya akan jadi pembuat pesawat dan radar. Siapa sangka, nazarnya itu tercapai.

(Jall/sumber ; Angkasa)

loading...